Loyalitas Para Pemenang


MENCERMATI gaya para pencari kerja dan kaum pekerja sekarang ini maka saya mengambil kesimpulan bahwa para karyawan generasi sekarang ini yang bekerja di berbagai perusahaan punya perbedaan besar dengan generasi sebelumnya. Apalagi mereka yang berusia sekitar 30 tahun, dan umumnya kelahiran tahun 1980-an. Para karyawan ini relatif muda, energik dan punya tuntutan tinggi terhadap perusahaan tempat dia bekerja.


Bila di masa lalu, perusahaan bisa menuntut karyawannya untuk loyal dan patuh pada aturan perusahaan tempatnya bekerja tampaknya untuk generasi abad 21 ini, kaidah-kaidah tersebut tak lagi bisa dipertahankan. Kaidah-kaidah sumber daya manusia (SDM) yang menuntut loyalitas karyawan tersebut hany a cocok di abad industri, namun saat informasi makin berkembang dan meluas yang ditandai dengan adanya internet terjadi perubahan mendasar.


Perekonomian dunia saat ini tumbuh pesat dan begitu banyak lapangan-lapangan pekerjaan baru tercipta di dunia yang semakin salin tergantung saat ini (inter dependence). Jenis-jenis usaha baru yang di abad lalu tak dikenal kini bermunculan. Itu semua dimungkinkan dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi yang semakin lama semakin canggih dan berkembang luar biasa cepatnya melampaui prediksi banyak orang.


Peluang dan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan dalam bentuk yang tak terbayangkan semakin terbuka. Siapa saja asal memiliki kompetensi dan kapasitas profesional tanpa memandang bangsa, ras, suku, gender dan agama bisa memasuki lapangan pekerjaan apapun. Atau justru menciptakan jenis pekerjaan baru yang tadinya belum terfikirkan. Dan pada akhirnya makin banyak perusahaan-perusahaan di dunia memberlakukan “equal employee opportunity”.


Mengapa demikian ? Menurut hemat saya, hal ini penyebabnya adalah makin mandirinya para karyawan. Akses informasi semakin luas. Para karyawan saat ini memiliki komputer yang tersambung dengan internet, mereka juga memegang laptop, handphone, ipod dan berbagai peralatan teknologi komunikasi. Mereka familiar dan ahli menggunakannya. Ini membuat bos-bos lama pemilik perusahaan menjadi ketinggalan jaman.


Karyawan abad 21 saat ini jelas memiliki posisi tawar yang lebih tinggi daripada generasi karyawan satu dekade lalu. Saat ini, perusahaan tidak bisa lagi selalu dominan terhadap karyawannya, karena sekarang ini bukan hanya perusahaan yang bisa memilih karyawannya, tetapi para karyawanpun bisa memilih perusahaan mana yang dia sukai. Prinsipnya perusahaan dan karyawan memiliki posisi yang sama, sama2 membutuhkan.


Loyalitas karyawan saat ini terletak pada kepuasannya dalam menyumbangkan keahlian yang dimilikinya. Perusahaan harus pandai-pandai mengelola sumber daya yang dimilikinya, sebab bila terjadi ketidakpuasan sedikit saja yang dialami para karyawan muda yang melek teknologi ini maka mereka akan keluar dan pindah ke perusahaan lain. Terkadang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

 


 

Generasi karyawan abad 21 memang jauh lebih mandiri. Mereka berani tawar menawar soal gaji dengan pihak perusahaan seraya menunjukkan kemampuan mereka dalam bekerja. Bila pada abad lalu perusahaan, setidaknya para bos di jajaran pimpinan berani mengatakan “take it or leave it” pada para karyawannya, maka sekarang ini para karyawan-pun berani mengatakan hal yang sama pada perusahaan yang akan mempekerjakannya : “take me or no way”

 


Sudah banyak terjadi, karyawan dengan prestasi terbaik di sebuah perusahaan saat sudah memiliki keahlian tinggi dengan jaringan klien yang luas memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan memilih menjadi pebisnis. Bahkan menjadi pesaing bagi bekas perusahaannya. Misalnya saja karyawan perusahaan perbankan, saat sudah mencapai posisi tertentu, memutuskan keluar dan menjalankan usahanya sendiri di bidang perbankan pula.

 


Di era teknologi informasi sekarang ini, hal tersebut dimungkinkan. Dalam dunia pekerjaan memang ada yang memilih sebagai karyawan, tetapi ada pula yang menjadi pebisnis. Pebisnis berarti orang yang tidak bekerja sebagai karyawan tetapi melakukan usaha yang mendatangkan pendapatan sendiri. Banyak bidang bisnis saat ini seperti bisnis jual beli properti, jual beli mobil, buka restoran, menjadi pemborong, makelar tanah, sampai ke bisnis-bisnis jasa seperti jasa periklanan, event organizer, kursus pendidikan, dan lain sebagainya.


Mental Karyawan model lama di abad lampau umumnya berpendapat bahwa karyawan itu hidup matinya ditanggung oleh perusahaan, jadi tidak boleh macam-macam, harus manutan, jangan coba-coba bikin masalah karena kalau dipecat habislah sudah hidupnya. Karyawan di abad baru, justru mengukur kemampuannya sendiri dan selalu mempertanyakan apakah upah yang dia terima sudah sesuai dengan kemampuan yang dia sumbangkan untuk perusahaan tempatnya bekerja.


Mental karyawan model lama seperti itu sesungguhnya agak aneh, dan bisa jadi mental itu bertahan berhubung diwariskan dari mental para ambtenaar yang bekerja untuk negara, para pegawai negeri. Saat itu era kolonialisme mencengkeram negeri ini dan yang namanya karyawan itu adalah orang gajian yang dihidupi oleh negara dan semua kebutuhan ditanggung oleh perusahaan, karyawan dan seluruh keluarga sampai hari tua.


Jadi para karyawan seolah-olah merasa nyaman dan hidup tenteram karena sudah tidak perlu memikirkan apa-apa lagi, yang penting bekerja yang baik dan sesuai aturan. Kalau sakit akan ditanggung oleh perusahaan, kalau butuh uang bisa cash bond sama perusahaan, sehingga hidup matinya hanya untuk perusahaan tempat dia bekerja. Tumbuhlah suatu kebanggaan dan loyalitas pada perusahaan karena karyawan berhutang budi pada perusahaan.


Karyawan abad 21 umumnya tidak lagi punya sikap seperti itu. Umumnya mereka adalah karyawan yang terdidik, trampil dan memiliki keahlian khusus. Mereka tak lagi sepenuhnya tergantung pada perusahaan. Sepanjang perusahaan masih memerlukan mereka dan mereka merasa dihargai oleh uang jasa yang diperolehnya dari perusahaan maka sepanjang itulah mereka akan bekerja dengan baik. Begitu kenyamanan mereka terusik, merekapun tak segan-segan meninggalkan perusahaan entah pindah ke perusahaan lain ataupun mendirikan bisnis sendiri sesuai dengan keahliannya.

Sebagai karyawan di abad 21 hendaknya persiapkan diri anda sendiri pula sebagai pebisnis. Saat anda bekerja, sebenarnya anda sedang menanamkan investasi bisnis di perusahaan anda. Bekerjalah sembari mengembangkan diri sendiri dan anggap bos dan rekan kerja anda sebagai partner bisnis anda bukan sebagai pesaing apalagi tuan besar yang bisa mengatur hidup anda. Dunia terus berkembang dengan pesat saat ini.

Begitu banyak peluang di sekitar anda. Menjadi pebisnis dan karyawan sekaligus sangat memungkinkan. Ini peluang bagi anda yang masih berstatus karyawan. Berorientasilah pada hasil yakni penghasilan anda. Bila penghasilan anda sebagai karyawan tidak lagi memuaskan dan anda mulai merasa tidak nyaman mungkin sudah saatnya anda terjun sendiri sebagai pebisnis mandiri. Atau mencari perusahaan yang sanggup menggaji anda lebih besar.

Tetaplah optimis dan bermental sebagai pemenang !

Sumber: Iwan Samariansyah *

Loyalitas Para Pemenang

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s