Membangun Personal Branding



Berhentilah sebentar dari aktivitas anda membaca artikel ini. Bukalah google.com, dan
tulislah nama anda lengkap, dalam tanda petik. Misalnya “Joko Susilo “.
Dengan tanda petik, berarti hanya halaman web yang memuat frasa lengkap persis
seperti itu yang akan ditampilkan. Kalau tanpa tanda petik, yang akan muncul
adalah setiap halaman web yang memuat kedua kata tadi.

Sudah? Berapa record yang anda dapatkan? Di atas 1000? Di atas 500? Di atas
100? Sekitar 25? Atau tidak ada sama sekali? Halaman mana saja yang memuat nama
anda? Saat ini internet praktis sudah menjadi hampir segalanya bagi masyarakat
dunia. Internet sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia
modern. Dengan internet, orang bisa terhubung dengan ribuan, atau bahkan jutaan
orang di berbagai belahan dunia tanpa hambatan yang berarti. Jadi, internet
telah menjadi media informasi yang amat sangat unggul, kalau kita tak mau
memakai istilah “tanpa batas”.

Dalam diskusi kita mengenai personal brand, kita sudah berbicara bahwa personal
brand adalah soal komunikasi. Kalau pun anda orang dengan keahlian sekelas
“guru”, tapi kalau keahlian itu tidak terkomunikasikan dengan baik,
apa artinya? Jumlah nama anda di halaman web adalah salah satu alat ukur yang
cukup akurat mengenai sejauh mana nama anda terkomunikasikan di dunia maya.

Mungkin anda bertanya: siapa saja yang menuliskan nama anda di jagad maya itu?
Pertanyaan bagus, karena jawaban atas pertanyaan itu justru akan
menggarisbawahi jalur-jalur komunikasi atas nama anda. Mari kita lihat. Nama
seseorang akan “nyantol” di halaman web dengan beberapa cara.
Pertama, bisa jadi nama seseorang nyantol di web karena yang bersangkutan aktif
di mailing list, dan kemudian tulisan di mailing list itu terdokumentasikan di
halaman web. Semakin banyak tulisan di milis yang terdokumentasikan di halaman
web, semakim banyak record seseorang di google.com atau search engine yang
lain.

Kedua, masih mirip dengan yang pertama, mungkin anda menulis di media internet,
dan anda menulis nama jelas anda. Jelas, ini akan menambah record anda di mesin
pencari. Ketiga, mungkin saja anda menulis di media cetak, kemudian ada orang
yang tertarik dengan tulisan anda, lantas memajang tulisan anda di situs web
mereka. Ada beberapa tulisan offline saya yang dipajang apa adanya di internet.
Keempat, bisa jadi anda ahli di bidang tertentu, kemudian ada orang yang
menulis tentang anda di internet.

Bagaimanapun cara nama anda terpajang di internet, sadar atau tidak, hal itu
akan menentukan persepsi publik terhadap siapa diri anda. Sebab, sekali lagi
jaman ini adalah jaman internet, yang serba terbuka. Kalau anda mengajukan
sebuah proposal karya arsitektur (kalau anda seorang arsitek), atau proposal
solusi keuangan (kalau anda seorang financial planner) atau mengajukan proposal
solusi marketing (kalau anda seorang konsultan pemasaran), jangan kaget kalau
calon client anda besok menelepon anda dan langsung mengajak anda
menandatangani kontrak. Tetapi juga jangan kaget kalau yang terjadi sebaliknya.
Mengapa, karena mereka melacak anda di Internet dan menemukan bahwa anda adalah
seorang pakar di bidang anda. Atau sebaliknya, anda terlalu banyak dicemooh di
internet. Atau, tak ada satu record pun mengenai nama anda di internet.

Saya masih ingin menulis tulisan lain mengenai personal branding online. Tetapi
sebelum masuk ke sana, saya ingin mengingatkan anda, watch your offline
personal brand. Sebab, dunia internet bisa sangat kejam terhadap seseorang.
Anda mungkin tahu, ada seorang yang oleh media cetak disebut-sebut sebagai
pakar teknologi informasi, dihajar habis di internet melalui milis dan blog.

Saya tidak ingin ikut latah membuat penilaian atas  orang itu. Yang ingin saya sampaikan dalam
obrolan kita ini adalah bahwa siapa anda di dunia nyata, bisa terekspos secara
berlebihan di internet. Termasuk sisi baik diri anda di dunia nyata. So,
bukankah ini peluang untuk kita?

Bagaimana cara menambah hasil pencarian atas nama anda di Internet [melalui
google misalnya]? Dalam tulisan terdahulu saya mengemukakan cara-cara yang
bersifat pasif. Anda seorang ahli, kemudian anda dikutip oleh media online,
atau dikutip oleh media offline dan kemudian dionlinekan, atau tulisan anda di
media cetak di-online-kan entah oleh siapa. Itulah sebabnya saya menyebut
langkah ini sebagai cara pasif.

Maka pertanyaannya, mengapa anda tidak mulai melakukan langkah yang lebih aktif
dengan cara menempatkan nama anda di internet sendiri? Ingat, sikap aktif anda
akan sangat penting karena di sana anda mempunyai peluang yang lebih besar
untuk mengendalikan personal brand anda. Melalui cara ini anda berkesempatan
untuk menceritakan sisi sisi tertentu saja dari hidup anda. Sisi-sisi hidup
lain yang menurut anda tidak perlu diketahui publik tidak perlu disajikan di
sana. Kontrol seperti ini tidak bisa dilakukan dengan metode pasif. Dalam
metode pasif citra anda ditentukan oleh wartawan atau oleh siapapun yang
mengapresiasi (atau membenci dan memarahi) anda.

Salah satu usaha untuk melakukan personal branding secara online adalah dengan
membangun personal website. Melalui situs personal itu, anda bisa bercerita
kepada pembaca mengenai siapa sejatinya diri anda. Sekali lagi, isi dari situ
situ sepenuhnya berada dalam kendali anda. Kalau seorang wartawan hanya menulis
isi presentasi anda di satu seminar, anda bisa menambahkan bahwa anda memang
ahli dalam bidang yang anda sajikan. Lebih dari itu, anda bisa menyajikan
portofolio atas keahlian itu. Kalau anda seorang dokter jantung yang hebat,
mengapa tidak menceritakan kasus-kasus yang berhasil anda tangani? Kalau anda
seorang pelukis, mengapa tidak anda foto lukisan anda, kemudian anda pajang
foto itu di situs personal anda? Kalau anda seorang arsitek, mengapa tidak anda
pajang karya-karya anda di sana? Dengan langkah-langkah tersebut di atas, anda
bisa meyakinkan pengunjung situs anda, bahwa anda memang seorang pakar pada
bidang tertentu.

Harus diakui bahwa di Indonesia situs personal memang belum begitu banyak
dibangun. Tetapi di dunia internasional kita bisa dengan mudah menemukannya.
Sebut saja beberapa situs yang entah berapa kali saya kunjungi seperti
http://www.michelledunn.com (Michelle Dunn, self publisher), http://www.petermontoya.com
(Peter Montoya, pakar personal branding), dan jutaan yang lain.

Praktis kini tidak ada masalah yang berarti untuk bisa membuat situs personal..baik
yg berbayar ataupun gratisan. Sebuah nama domain kini bisa diperoleh dengan
harga sekitar Rp100.000 per tahun, sedangkan sewa server sebesar 25 megabyte
cukup dengan uang Rp120.000 per tahun. Proses editingnya dan submit artikel ke
web pun juga sederhana,

Kini, sebagai kelanjutan dari situs web pribadi, kita juga mengenal yang
disebut web-log. Pada dasarnya weblog adalah situs personal, tetapi mempunyai
ciri lebih. Ciri lebih dari weblog adalah jaringan-jaringan yang [mungkin]
dibentuknya. Kalau personal web umumnya berciri statis, weblog umumnya lebih
dinamis. Personal web umumnya dibangun sekali jadi, dan sesekali saja
diperbarui (update). Tetapi tidak demikian dengan weblog. Orang biasanya
mengupdate weblognya secara berkala, bahkan ada yang harian, malah ada yang
lebih dari sekali dalam sehari.

Update pada weblog bisa bermacam macam, mulai dari pendapat pribadi,
kesan-kesan pribadi, sekadar catatan harian, komentar atas tulisan orang lain,
atau apapun juga, karena yang membatasi praktis hanya kreativitas yang
bersangkutan. Semakin kreatif seseorang, semakin tak terbatas isi yang bisa
dituangkan dalam weblog.

Yang menarik adalah bahwa weblog mempunyai jaringan ke belakang maupun ke
depan. Yang saya maksud dengan jaringan ke belakang adalah bahwa seorang
penulis blog bisa merujuk pada apapun yang sudah lebih dulu ada di internet.
Membaca tulisan ini, anda bisa menjadikannya rujukan pada weblog anda dengan
cara membuat link dari halaman web anda ke halaman artikel ini. Anda juga bisa
merujuk tulisan orang lain di media lain, atau situs lain, atau perpustakaan
lain. Dengan demikian pengunjung web anda akan dituntun menuju berbagai
sumberdaya internet yang tak terbatas. Maka jangan heran kalau weblog anda
kemudian praktis menjadi portal pribadi. Kalau weblog anda mengkhususkan diri
mengenai autis misalnya, orang akan cukup masuk ke weblog anda, dan dari sana
bisa lari ke berbagai penjuru dunia autis.

Yang saya maksud dengan jaringan ke depan adalah bahwa orang lain juga bisa
melakukan hal yang sama atas weblog anda. Saya, misalnya, bisa membangun link
di halaman weblog saya ke halaman tertentu dalam weblog anda, atau ke dalam
keseluruhan weblog anda. Bahkan, kalau anda mau, anda bisa membuat ruang
interaksi dengan pembaca anda. Misalnya, di bawah tulisan anda, orang bisa
memberi komentar apapun. Dan, inilah enaknya, anda tetap punya wewenang untuk
mengedit komentar-komentar itu. Kalau menurut anda komentar A tidak produktif
untuk personal brand anda, anda bisa menghapusnya begitu saja.

Bagaimana membuatnya? Gampang. Ada begitu banyak software gratis yang bisa
dipakai seperti di http://www.blogger.com. Kemudian anda bisa menempatkan hasil editan
weblog anda di web personal anda atau di server gratis seperti http://www.blogspot.com
misalnya. Atau di  wordpress.com dan sebagainya

Lantas anda bertanya, tetapi bagaimana caranya agar orang lain mengenal situs
personal maupun weblog anda? Tidak terlalu bermasalah. Kalau anda membaca
tulisan saya sebelumnya tentang milis, anda pasti akan berteriak
“aha”. Cara yang paling sederhana adalah dengan menuliskan alamat
situs web personal anda di akhir email anda, entah yang dikirim untuk
pribadi-pribadi tertentu maupun dikirim (terutama) melalui milis.

Yakinlah, situs personal dan weblog akan sangat berguna bagi anda untuk
membangun dan mengendalikan personal brand anda. Mungin ini bukan bukti, tetapi
saya mengenal cukup banyak orang hanya karena situs personalnya. Ada yang
kemudian kenal secara pribadi, ada yang sekadar saya tahu betapa orang ini
memang hebat.

Sumber : artikel Her Suharyanto

Membangun Personal Branding

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s