Dari Moblin ke Smeegol



Saya sedikit kecewa ketika akhirnya beberapa waktu lalu
Canonical menghentikan dukungannya pada proyek Moblin saat Moblin
bermetamorfosis menjadi Meego.
Meego adalah gabungan kekuatan Intel dan Nokia untuk mencoba menyajikan
sistem operasi ringan, multifungsi untuk beberapa varian perangkat:
dari perangkat genggam dan mesin-mesin kecil berbasis prosesor Intel
Atom. Ketika masih bernama Moblin, Intel telah menyerahkannya kepada Linux Foundation,
sehingga membuka peluang vendor distribusi lain untuk ikut bergabung
dengan varian distribusi mereka sendiri: Ubuntu, SUSE Linux, Fedora dan
Mandriva. Moblin sendiri awalnya secara ofisial mengambil model
distribusi rpm ala Fedora.

Ubuntu Moblin Remix

Canonical sudah mendukung proyek Moblin sejak Ubuntu 9.04 resminya dengan
panggilan Ubuntu Moblin Remix (UMR). Setelah saya bandingkan dengan
Moblin versi resmi Intel, rasanya memang lebih fleksible UMR, barangkali
karena saya lebih akrab dengan Ubuntu, .deb dan apt saja. Salah satu
alasan utama pilihan saya pada UMR saat itu adalah ketersediaan piranti
lunak dari kekayaan repository Ubuntu/Debian dan kemudahan.

Saya resmi menggunakan UMR pada notebook saya (bukan netbook) pada UMR berbasis Ubuntu 9.10 Karmic Koala, ulasannya disini.
Tapi tampaknya Canonical lebih tertarik untuk melanjutkan versi
netbook-nya sendiri yaitu Ubuntu Netbook Remix (UNR) dan mulai pada
rilis Ubuntu 10.04 menggunakan Unity sebagai Desktop Manager. Pada
dasarnya saya menyukai Mutter (Metacity Clutter) Moblin sebagai
Desktop Manager yang enteng, tak banyak asesori dan bergaya di luar
mainstream desktop Linux lainnya seperti: GNOME, KDE, LXDE, E17,
OpenBox, Fluxbox dst.

Soal UNR dan Unity, Canonical tampaknya juga ingin bergaya lain di luar mainstream desktop, ketika mengumumkan akan menggunakan Unity sebagai desktop utamanya pada Ubuntu 11.04, Shuttleworth – boss Canonical menyebutnya Ubuntu Light.
Pada UNR 10.10 Maverick Meerkat, tak banyak yang disajikan beda dan
sama sekali tak ada hal baru yang menarik sehingga tak cukup berarti
untuk meng-upgrade Ubuntu 10.04 Lucid Lynx di netbook saya dengan UNR
Maverick Meerkat 10.10.

Munculnya Meego

Meego adalah gabungan proyek Moblin dari Intel dan Maemo dari Nokia. Meego
diarahkan untuk menyediakan platform yang sama bagi banyak tipe dan
model perangkat Intel dan Nokia, dimana dari Intel pada dasarnya adalah
arsitektur berbasis prosesor Atom-nya. Meego 1.0 telah dirilis
sejak tahun lalu. Ada yang berubah dari jerohan Meego dibanding Moblin.
Meego sudah dibangun dengan QT Toolkit (basis dari KDE) dibanding
Moblin yang banyak dibangun dengan pustaka GTK. Ini bisa dipahami,
karena Nokia sudah membeli QT dan meng-opensource-kannya.

Tapi Meego 1.0 sama sekali jauh dari harapan saya dibanding Moblin lama
dari Ubuntu. Saya masih terus menggunakan Moblin yang kemudian saya
anggap sebagai Ubuntu dengan desktop manager yang berbeda saja. Saya
suka sentuhan yang beda dari GUI Moblin. Moblin tak bisa dikatakan
desktop minimalis kalau dari ukurannya, begitu juga Meego. Moblin saya
untuk penggunaan optimal sehari-hari dimana saya mengganti browser
utamanya dengan Chromium, dan codec non-free untuk memainkan file-file
multimedia seperti mp3, 3gp, mov, mpg dll, saya perlu menambahkan
pustaka codec, atau bahkan aplikasi tambahan dari yang sudah ada di
Moblin. UMR yang saya gunakan menggunakan kekayaan repository Ubuntu,
jadi menambahkan ini dan itu jelas sangat mudah. Applet NetworkManager
Moblin untuk koneksi WIred, WIFI dan 3G tidak berfungsi di Moblin, jadi
saya hampir tak pernah menggunakannya kecuali dengan cara lama
Debian/Ubuntu. Dan sampai optimal untuk desktop sehari-hari yang saya
perlu ruang harddisk paling tidak 3,5 GB, masih cukup hemat dibandingkan
Windows (XP sekalipun), tapi lumayan besar dibanding desktop Linux
lainnya.

Meego sudah hadir langsung dengan Chromium, tapi soal piranti lunak,
Appication Garage sepertinya tak berbunyi apapun, karena sedikit sekali
dari kebutuhan harian yang bisa temukan di situ. Saya bertanya-tanya,
apa memang demikian? Jadi untuk sekedar mengetik pun, dengan Word
Processor (OpenOffice Write) misalnya, saya mesti susah payah
memasangnya. Baiklah jika Moblin memang bukan full-blown desktop, tapi tentu lebih baik jika full-blown Office Suite
setidaknya juga ada di Application Garage. Meego 1.1 herannya juga
mengabaikan Office Suite, jadi orang cuma dipersilahkan pakai Google
Docs dan browsing saja. Di tempat fakir bandwidth macam Indonesia, hal
ini sama saja dengan sistem operasi tak banyak guna, bukan ringan
tepatguna.

Meego 1.1 sudah dapat dipasang berdampingan dengan Maemo pada N900. Tapi
Meego 1.1 masih harus mengkonfigurasi codec-codec yang diperlukan untuk
memainkan file-file multimedia non-free. Yang mengherankan
adalah ketaktersediaan-nya di Application Garage. Tak banyak berguna
jika diinstalasikan ke desktop netbook, apalagi pada notebook saya.
Sudah rilis 1.1 masih jauh dari siap dan matang untuk dipergunakan di
lingkungan desktop (netbook/notebook). Aneh!

Smeegol dari OpenSUSE

Ketika akhirnya Moblin menjadi Meego, hanya Goblin Team openSUSE yang
masih menyatakan dukungannya. Meego sendiri kemudian juga menjadi lebih
cenderung ke gaya openSUSE daripada Fedora, meski tanpa YaST (Yet
another Setup Tool – SUSE) yang dahsyat itu. Smeegol dibangun dari
openSUSE dengan SUSE Studio dan antarmuka diambil dari Meego. Jadi
Smeegol adalah kerja sukarela dari komunitas openSUSE dan merupakan
interpretasi openSUSE Goblin Team dari pengalaman antarmuka Meego.
Banyak kustomisasi yang membedakannya dengan Meego. Tapi yang paling
saya suka adalah ketersediaan repository kaya komunitas openSUSE untuk
piranti-piranti lunak Smeegol.

Smeegol seolah membangkitkan kembali Ubuntu Moblin Remix yang sudah saya
bunuh dari keseharian saya karena dukungan Ubuntu tak berlanjut lagi di
rilis setelah Ubuntu 9.10. Meng-upgrade Moblin basis Ubuntu 9.10 saya
ke Lucid Lynx banyak piranti lunak yang terputus pustakanya. Smeegol
adalah jawabannya, meski dari openSUSE yang belum pernah saya gunakan
sama sekali. Tapi Goblin Team openSUSE sudah melakukan kerja yang layak
sekali dipuji. Smeegol menutup banyak kekuarangan Meego. Pada dasarnya
perbedaan distribusi openSUSE dan Ubuntu tak besar-besar sekali jika
soal cara pengelolaan paket. Siapa pengguna Linux lama tak kenal YaST?
YaST adalah control center paling terpadu dan tangguh dari semua distribusi yang pernah saya kenal. Apalagi sekarang dengan adanya command line
Zypper yang (barangkali terinspirasi) dari Apt Debian, segala
sesuatunya jadi tak banyak beda dengan lingkungan Debian/Ubuntu. Jika
mau atur-atur konfigurasi dengan GUI (Graphical User Interface), pakai
YaST tak ada yang lewat dari kontrol.

Smeegol sudah hadir dengan Chromium, applet NetworkManager yang bekerja
baik sekali dengan koneksi kabel, WIFI maupun 3G. Jika tak menggunakan
DHCP, mudah sekali mengkustomisasikannya. Saya bisa tambahkan
codec-codec yang saya perlukan untuk file-file multimedia, atur Smeegol
seolah openSUSE dengan wajah lain saja. Jadi ketimbang kita
tunggu-tunggu Meego menjadi matang, menurut saya Smeegol lebih layak
diberi kesempatan coba. Ini bukan hanya bagi pengguna lama openSUSE tapi
juga pengguna baru seperti saya. Dan Smeegol juga hadir untuk
arsitektur 32 bit dan 64 bit. Jadi Notebook sama juga berhak jadi serba
klik cepat dan instant macam yang versi Netbook. Lupakan Meego, simak
saja Smeegol yang juga mendukung laptop Core2 dan CoreI kita daripada
hanya Atom.

Karena notebook yang saya gunakan menggunakan RAM 4GB, maka saya upgrade kernel Smeegol dari openSUSE standard ke kernel pae,
agar dapat mengenali penuh RAM 4GB tersebut. Tak ada kesulitan yang
berarti, repository openSUSE dimana-mana di Indonesia, jadi cukup mudah
dan cepat pada kondisi buruk dan mahal bandwidth internet Indonesia,
kita main di mirror lokal saja :-)

$sudo zypper refresh && sudo zypper se kernel | grep pae

$zypper in kernel-pae htop

Setelah install kernel, reboot. Jika sudah masuk, cek dengan htop
maka RAM 4GB setidaknya akan dikenali sepenuhnya, tidak hanya 3GB jika
menggunakan kernel default. Ketika saya cobakan di netbook berdampingan
dengan Windows7 atau Windows XP, rasanya tak kalah mudah dan mentereng
antarmukanya. Kustomisasi Smeegol adalah kustomisasi standar openSUSE,
untuk desktop harian, banyak system service yang perlu kita non-aktifkan. Tapi ini bukan prioritas jika netbook/notebook ber-RAM memadai. Loading time dari saat memilih GRUB boot manager, kurang dari setengah menit (mungkin bisa di-tweak lebih cepat lagi sedikit) dan shutdown kurang dari 5 detik. Ini yang bikin patut dijajal, bukan?

Catatan

Ada soal brand penggunaan nama Smeegol (entah asal katanya dari SUSE Meego atau bukan), yang plesetan bunyi mirip dari Smeagol, nama Gollum
pemilik cincin dari kisah trilogi The Lord of The Ring JR. Tolkien.
Smeegol sebenarnya adalah pilihan nama yang cerdas. Nama bagus yang
dekat asosiasi bunyinya dengan Meego. Tapi rupanya pemilik brand The Linux Foundation
merasakan kedekatan itu sebagai pencederaan brand (cedera apanya ya?),
jadi mereka berunding dengan Goblin Team untuk menemukan nama baru
selain Smeegol. Gantilah apapun namanya, bagi user seperti saya, tak
banyak berarti, karena itu juga tak akan membuat Meego jadi jauh lebih
menarik. Smeegol sudah lebih merebut hati: antarmuka sama, isi lebih
tepatguna dan mudah pengelolaannya. Komunitas openSUSE lebih tua dan tak
kalah dari Ubuntu, mirror tersedia di mana-mana (daripada Meego
Application Garage), alhasil codec, plugin, pustaka, piranti lunak pun
adalah kekayaan repository openSUSE jua. Jadi apalagi? Smeegol memang
layak sekali dicicipi.

Sumber

Dari Moblin ke Smeegol

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s