The Way of the Warrior


Di antara bunga-bunga, ada sakura. Di antara laki-laki, ada samurai-Pepatah Samurai

Bunga sakura adalah bunga yang sangat identik dengan Jepang. Bunga ini merupakan simbol penting yang sering diasosiasikan dengan perempuan, kehidupan, kematian, keberanian, kesedihan, dan kegembiraan. Sakura juga menjadi untuk mengeksperesikan ikatan antarmanusia. Bunga ini hanya mekar setahun sekali, dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan. Kehidupan bunga sakura ini kemudian mengilhami masyarakat Jepang dalam membuat sebuah model/disiplin moralitas. Di kalangan kaum samurai disebut Bushido (the way of the warrior).

Kehidupan bunga sakura yang singkat mengisyaratkan tentang kehidupan para samurai yang selalu dihadapkan pada kematian setiap saat, baik dalam pertempuran maupun dalam kehidupan sosialnya sehari-hari. Seperti bunga sakura yang gugur di puncak kematangannya, para samurai dituntut untuk selalu memberikan yang terbaik setiap saat. Sehingga hidupnya yang singkat memiliki makna/arti, dan di kemudian hari ia akan tetap dikenang sebagai seorang samurai.

Samurai (Warrior)
Menurut Wikipedia, samurai adalah istilah untuk perwira militer kelas elit sebelum zaman industrialisasi di Jepang. Kata samurai berasal dari kata kerja samorau, dari bahasa Jepang kuno, yang berubah menjadi saburau yang berarti melayani, dan akhirnya menjadi samurai yang bekerja sebagai pelayan bagi sang majikan.

Secara garis besar, seorang samurai tidak sekadar menjadi pelayan bagi majikan. Karena, dibalik ketangkasan seorang samurai dalam memainkan pedang ataupun kepintarannya dalam mengatur strategi bertempur, sesungguhnya mereka diarahkan untuk hidup dalam ketenangan jiwa dan keyakinan hati. Prinsip ini benar-benar ditanamkan ke dalam pikiran dan hati seorang samurai sehingga mereka senantiasa menghidupkan hati sebagai sumber cahaya dan keyakinan diri. Dalam film “The Last Samurai” dijelaskan bahwa sesungguhnya to be a samurai is to devolve your self to the moral principle.

Hal yang paling mendasar dalam prinsip samurai adalah ajaran untuk senantiasa hidup dalam kejujuran terhadap diri sendiri. Jika tidak, mereka dianggap belum benar-benar menjalani kehidupan secara utuh. Kejujuran inilah yang kemudian menjadi salah satu karakter utama dari seorang samurai disamping bersemangat dan senantiasa sempurna dalam melakukan setiap perkerjaan. Shingen Harunobu Takeda, seorang Daimyo (tuan tanah) zaman Sengoku dari Propinsi Kai yang mendapat julukan “Harimau dari Kai”, menggambarkan seorang samurai itu fast like the wind, silent like a forest, intrusive like the fire, immobile like a mountain.

 

BUSHIDO – The Way of the Warrior

Secara umum, Bushido lebih difahami sebagai sebuah model, disiplin, dan moral para kaum samurai. Dengan kata lain Bushido adalah kode etik dalam masyarakat samurai yang digagas oleh pemerintah/pemimpin, baik tertulis maupun tidak. Bagaimanapun prosesnya, disiplin Bushido ini telah menjadi moralitas masyarakat Jepang pada umumnya hingga saat ini.

Sebagai sebuah disiplin samurai, Bushido terbagi menjadi dua periode yaitu Hagakure Bushido dan Tokugawa Bushido. Namun dari kedua periode tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa inti moral Bushido adalah sebagai berikut:

  1. Gi (? – Integritas) = Seorang samurai harus utuh segala aspek kehidupannya baik fikiran, perkataan, maupun perbuatan.
  2. Y? (? – Keberanian) = Berani untuk mempertahankan prinsip kebenaran, bahkan jika harus mengorbankan nyawa sekalipun.
  3. Jin (? – Kemurahan hati) = Bushido memiliki aspek keseimbangan antara maskulin (yin) dan feminim (yan). Jin inilah yang mewakili sifat feminim. Walau seorang samurai berlatih pedang dan strategi perang, namun samurai harus memiliki sifat mencintai sesama, kasih sayang, dan peduli.
  4. Rei (? – Menghormati) = Sikap moral ini ditunjukkan melalui kesantunan dalam cara duduk, berbicara, bahkan dalam memperlakukan benda ataupun senjata.
  5. Makoto atau Shin (? – Kejujuran dan tulus-iklas) = Samurai mengatakan apa yang mereka maksudkan dan melakukan apa yang mereka katakan. Mereka membuat janji dan berani menepatinya.
  6. Meiyo (?? – Kehormatan) = Seorang samurai memiliki harga diri tinggi, yang selalu mereka jaga dengan berperilaku terhormat.
  7. Ch?go (?? – Loyal) = Kesetiaan ditunjukkan dengan dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas, dan puncak kehormatan seorang samurai adalah mati dalam menjalankan tugas/perjuangan.
  8. Tei (? – Menghormati Orang Tua) = Samurai sangat menghormati orang yang lebih tua baik orang tua sendiri, pimpinan, maupun para leluhurnya.

 

Samurai Masa Kini

Suatu ketika sahabat saya melakukan perjalanan menggunakan taksi di Yokohama, Jepang. Ditengah perjalanan ternyata taksi tersebut salah mengambil jalur dan baru disadari setelah terlewat jauh dan ditegur. Hal pertama yang dilakukan oleh supir taksi adalah mematikan argo kemudian berbalik arah menuju tempat yang dituju. Setelah tiba, lalu sahabat saya turun. Ketika hendak membayar tiba-tiba si supir taksi menolaknya seraya meminta maaf karena telah salah mengambil jalan. Sahabat saya hanya mampu diam terpaku mengamati fenomena tersebut karena selama ia naik taksi di Indonesia tidak pernah menemui kejadian seperti itu.

Budaya malu ketika berbuat kesalahan lalu meminta maaf di Indonesia saat ini telah menjadi sesuatu yang langka. Jangankan meminta maaf terlebih dahulu, terkadang si pelaku kesalahan malah memaki atau marah-marah lebih dahulu untuk menutupi kesalahannya.

Sebagai contoh, dalam sektor hukum di Indonesia. Saat ini, kondisinya sudah sangat kental akan berbagai skandal berupa praktik penyuapan, korupsi, dan jual beli hukum/undang-undang. Maka, tidaklah salah jika di awal tahun 2011, Komisi Yudisial (KY) Republik Indonesia menggodok sejumlah langkah guna menciptakan peradilan yang bebas mafia hukum. Salah satunya dengan memberikan teladan dan menularkan budaya malu kepada para hakim.

Seperti falsafah samurai, tidak selamanya manusia hidup di dunia. Mengapa kita tidak berupaya berbuat dan melakukan yang terbaik dalam menjalani kehidupan. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Shingen Harunobu Takeda membacakan puisi “Seperti biasa, serahkan pada tanah, baik untuk kulit dan daging, tanpa perlu berlumur merah dan putih, sendiri bersama hembusan angin”.

Di dalam buku berjudul “The Book of Five Rings”, Miyamoto Musashi mengatakan ilmu tertinggi dari ilmu pedangnya adalah nothingness (ketiadaan).

Kepiawaian seorang samurai dalam memainkan pedang memang tidak diragukan lagi, apalagi mereka senantisa mengasah kemampuannya dari waktu ke waktu guna melindungi tuannya dan diri sendiri dalam setiap pertempuran. Namun, setelah melakukan latihan pedang selama bertahun-tahun justru para samurai mulai menyadari ternyata kemampuan fisik kerap membatasi kekuatan dan tekniknya.

Mereka juga menyadari bahwa hati seorang manusia sumber kekuatan nyata yang tak berbatas. Hati memiliki jangkauan yang tak terhingga karena mampu terhubung langsung dengan alam semesta. Meskipun keberadaan manusia merupakan kombinasi antara fisik dan spiritual, namun mereka berkeyakinan, kelak, jiwa akan tetap hidup meskipun fisik telah hancur.

 

Spiritual Samurai

Dalam catatan sejarah samurai, pertempuran Kawanakajima merupakan salah satu pertempuran samurai terbesar yang pernah terjadi. Pertempuran ini melibatkan pasukan Takeda (Takeda Shingen) dan pasukan Nagao (Uesugi Kenshin) yang terjadi lima kali pada tahun 1553, tahun 1555, tahun 1557, tahun 1561, dan tahun 1564.

Keduanya, baik Takeda Shingen maupun Uesugi Kenshin, sangat dikenal sebagai samurai besar. Satu sama lain menjadi rival berat dalam rencana pengembangan wilayah kekuasaannya masing-masing. Ada catatan menarik dari sejarah pertempuran Kawanakajima. Yaitu, pertempuran ini sama sekali tidak mengganggu perdagangan antara kedua pihak bertikai. Sejarawan Rai Sany? menyatakan Uesugi Kenshin pernah mengirimkan garam ke wilayah musuh besarnya (Takeda Shingen) yang sedang mengalami kelangkaan garam.

 

Ditengah masa pertempuran Kawanakajima, Takeda Shingen wafat pada usia 53 tahun karena kesehatannya terus memburuk. Mendengar berita kematian Takeda membuat Uesugi Kenshin begitu terkejut hingga sumpit yang sedang dipegangnya sampai terjatuh. Kemudian ia berkata sambil menangis tersedu-sedu, “Laki-laki hebat telah meninggal (tidak akan ada penggantinya)”. Seketika itu, para pengikut Uesugi Kenshin mengajukan usul agar kesempatan ini digunakan untuk menyerbu ke wilayah Takeda. Tapi usulan tersebut langsung ditolak dengan sangat tegas oleh Uesugi Kenshin dengan mengatakan perbuatan seperti itu adalah tindakan kekanak-kanakan.

Takeda Shingen maupun Uesugi Kenshin memaknai pertempuran sebagai sesuatu yang sakral. Bagi mereka musuh harus dihormati karena cerminan dari pernghormatan terhadap diri sendiri.

Menurut kode etik samurai, pihak yang menang ataupun yang kalah harus memperlakukan musuh dengan tidak merendahkan harga diri. Oleh karena itu, dalam peperangan, mereka dipagari oleh ajaran etika samurai yang ketat seperti tidak menyerang dari belakang, saling menghormati harga diri, dan melakukannya hingga tuntas. Mereka berkeyakinan pertempuran merupakan suratan takdir. Ketatnya aturan dalam peperangan ini mengisyaratkan makna bahwa sesungguhnya pertempuran adalah pilihan terakhir yang akan ditempuh manakala tidak ada jalan sepakat diantara kedua belah pihak.

Jika Anda memenangkan ratusan perang, itu bukanlah suatu kebanggaan. Jika Anda menang tanpa harus berperang, itulah kebanggaan yang sesungguhnya.” -Shingen Harunobu Takeda-

Transformasi Samurai

Jaman terus bergulir. Masa kejayaan kaum samurai dengan senjata tradisionalnya semakin tersingkir oleh kemajuan jaman dan teknologi. Dimasa restorasi Meiji, fungsi kaum samurai digantikan oleh tentara bersenjatakan senapan api. Pada masa itu, teknologi dan budaya barat pun mulai berakulturasi dengan budaya kearifan lokal Jepang.

Meiji Ishin, dikenal juga dengan Restorasi Meiji, terjadi pada tahun 1866 sampai 1869. Pembaruan ini membawa dampak perubahan yang sangat besar dalam perubahan struktur politik dan sosial Jepang. Dalam restorasi Jepang, Meiji mengusung sebuah konsep yang sangat apik yaitu penggabungan antara Eastern ethics and Western science.

 

Secara tersirat, konsep ini menyinergikan kemajuan berfikir manusia yang tetap mengakar pada moral dan budaya bangsa. Hal ini tercermin dalam salah satu ucapan Kaisar Meiji (Prince Mutsuhito) yang sangat terkenal, “I dreamed of a unified Japan. A country strong, independent, and modern… Now we have Railroads, Cannon, and Western clothing. But we cannot forget who we are, or where we come from.

Budaya barat beserta seluruh kemajuan ilmu pengetahuannya terus masuk, berakulturasi dengan budaya Jepang. Namun semangat dan budaya samurai sama sekali tidak luntur atau tergerus oleh kemajuan peradaban karena tetap dijaga oleh pemerintah Jepang serta diajarkan secara turun temurun sehingga ajaran Bushido saat ini telah menjadi karakter seluruh masyarakat Jepang. Lantas bagaimana dengan teknik samurai dalam memainkan pedang? Seni menggunakan pedang (Battodo) pun tetap dijaga oleh pemerintah. Kelak, ilmu ini sangat bermanfaat pada masa Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Battodo

Pada periode antara dua Perang Dunia, Akademi Militer Toyama (Rikugun Toyama Gakko) mengembangkan sebuah sistem ilmu pedang untuk pertarungan jarak dekat yang sering dijumpai pada medan perang modern. Tujuannya untuk mencari kemudahan serta menggali teknik yang lebih efektif dan efisien. Penekanan Batodo ini lebih diarahkan pada latihan uji cutting (tameshigiri). Aliran baru dari ilmu pedang Akademi Toyama ini kemudian dinamakan Gunto no Soho (setelah PD II menjadi Toyama Ryu).

 

Setelah tahun 1945, muncul tiga turunan interpretasi dari Toyama Ryu yang asli yaitu Nakamura-ha, Morinaga-ha, dan Yamaguchi-ha. Nakamura Taizaburo sensei adalah pendiri Nakamura-ha. Ia menambahkan kata kedelapan (Itto Ryodan) dan memperkenalkan beberapa perubahan teknis pada kata lain dari Toyama Ryu versi pra PD II.

Pada 1977, Nakamura mendirikan Zen Nippon Toyama Ryu Iaido Renmei. Setelah masa perang, ia mendirikan Federasi Battodo Internasional. Tujuan organisasi ini untuk mengembangkan Nakamura Ryu yang saat ini telah menyebar ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, United Kingdom, Serbia, Australia, Austria, dan Indonesia.

Nakamura Ryu mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 2009 melalui Bansai Dojo (Battodo Nakamura Ryu Samurai Indonesia). Penekanannya lebih kepada pembangunan karakter dengan menggabungkan antara seni pedang, nilai moral Bushido, dan peningkatan ESQ (Emotional and Spiritual Quotient).

Unshakable Morality

Gempa berskala 8,9 skala ritcher yang disertai tsunami, pada 11 Maret 2011, telah meluluhlantakan Miyagi dan sekitarnya. Tak hanya itu, gempa juga mengakibatkan terbakarnya kilang minyak di Ichinara serta meledaknya reaktor pembangkit listrik tenaga nukir. Ribuan orang meninggal dunia dan jutaan lainnya kini terlunta-lunta. Mereka bertahan hidup tanpa rumah, kekurangan air bersih, serta kekurangan pangan dan obat-obatan.

Ada yang menarik dibalik bencana yang terjadi di Jepang. Di tengah himpitan musibah itu, tidak ada sama sekali berita penjarahan atau pencurian. Berbeda dengan bencana di sejumlah negara, seperti pascagempa dahsyat di Haiti dan Cile, pascabanjir besar di Inggris 2007, dan pascabadai Katrina di Amerika Serikat. Di empat negara ini, seluruh warganya menjarah bahan pangan untuk bertahan hidup.

Hal tersebut memperlihatkan begitu kokohnya moralitas masyarakat Jepang, bahkan di tengah bencana. Bisa jadi, ini merupakan budaya Jepang yang sudah tertanam begitu dalam di alam bawah sadar mereka. Ada nilai-nilai yang tetap dijalani dan dipertahankan dalam kondisi apapun.

Saya masih mengingat para korban bencana tsunami di Aceh dan Minahasa yang seharusnya menerima bantuan bahan makanan dan obat-obatan. Sebagian bantuan tersebut justru diselewengkan oleh segelintir orang sehingga beberapa korban bencana (kasus Farid Faqih, 2005) justru tidak mendapatkannya. Belum lagi isu korupsi yang terjadi di tubuh Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias (BRR). Inilah sekelumit kejadian di bangsa sendiri yang menunjukkan masih ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan di tengah penderitaan saudaranya.

Seorang sahabat bercerita pascakunjungannya ke Jepang. Ia menanyakan kepada salah satu orang Jepang tentang budaya berlalu-lintas. Ia menanyakan mengapa tidak ada orang yang melanggar lalu lintas di Jepang, sehingga terlihat tertib dan teratur sekali. Orang Jepang itu berkata, “Jika saya melanggar saya yang akan rugi sendiri. Jika terjadi kecelakaan maka pihak asuransi tidak akan membayar klaim karena itu adalah kesalahan saya. Belum lagi hukum masyarakat yang mengucilkan saya karena perbuatan saya yang tercela”.

Sebagai penutup, saya mengutip ucapan Mahatma Gandhi. “You must not lose faith in humanity. Humanity is an ocean; if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty

 

Windmill – Time goes wherever you are

 

Sumber:
ESQ Basic Training
http://bansai-dojo.com/home/
http://id.wikipedia.org/wiki/Restorasi_Meiji
http://id.wikipedia.org/wiki/Uesugi_Kenshin
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/11/03/16/169799-mengapa-di-jepang-tidak-terjadi-penjarahan-makanan
http://www.tempointeraktif.com/hg/topik/masalah/701/

http://www.zenstoriesofthesamurai.com/Characters/Shingen%20Takeda.htm
http://www.bushidohistory.com/

 


The Way of the Warrior

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s