Celebrate World IPv6 Day


Lewat 9 hari setelah Hari IPv6 Dunia (World IPv6 Day), apa sih hasilnya? Kabarnya sih, flight test selama 24 jam ini berlalu tanpa masalah berarti.

 Bagi end-user non korporasi mungkin tak ada masalah berarti. Bahkan mungkin mereka tak menyadari kalau dirinya pada tanggal 8 Juni lalu, terkoneksi ke internet melalui IPv6. Lalu lintas IPv6 saat itu pun terbilang tak cukup ramai. Berdasarkan pantauan tim TI Facebook, satu juta dari 250 juta pengunjung harian jejaring sosial ini terkoneksi via IPv6. Berarti pada tanggal 8 Juni lalu hanya 0,4% saja dari pengunjung FB yang menggunakan IPv6.

Dari pantauan Cisco Visual Networking Index, IPv6 traffic hanya berkisar 0,3% saja dari total lalu lintas internet atau 3 petabyte dari kurang lebih 1 exabyte per hari. Sandvine, vendor jaringan asal AS, menyebut angka 0,135% sebelum flight test dimulai. Saat uji verlangsung, proporsi memang meningkat menjadi 0,15 persen. Artinya, sebagian besar elemen ekosistem infrastruktur internet dunia mungkin belum mendukung migrasi ke IPv6 (baca juga: Mengenal IPv6).

Selain itu, Hari IPv6 Sedunia tidak sepenuhnya menunjukkan peralihan yang sebenarnya dari IPv4 ke IPv6. Lho kok begitu? Menurut para pakar yang dikutip oleh berbagai media di negara barat, tes ini tidak menjadi ujian bagi IPv6 melainkan teknologi transisi dari IPv4 ke IPv6.

Sebagian besar dari traffic yang terjadi di hari Rabu itu tidak menggunakan IPv6 melainkan berbagai protokol yang dirancang khusus untuk memampukan IPv6 bekerja berdampingan dengan jaringan yang masih didominasi oleh IPv4. Meski begitu, tool transisi semacam itu akan masih dibutuhkan, setidaknya untuk 10 tahun lagi.

Untuk pengguna di sektor korporat, ada sekelumit masalah sekuriti yang patut diwaspadai, demikian warta yang ramai diusung beberapa media teknologi di belahan dunia barat sana. Salah satunya adalah perangkat pengamanan jaringan perusahaan kemungkinan harus diganti atau dikonfigurasi-ulang agar dapat menangani lalu lintas akses berbasis IPv4 dan IPv6.

Dalam hal sekuriti, Blue Coat Systems, salah satu perusahaan sekuriti jaringan dari AS melihat ada hal positif dari IPv6. Misalnya, serangan random brute-force tidak akan efektif terhadap protokol baru ini. Di IPv4, seorang penyusup bisa memilih blok alamat IP manapun dan berharap ada perangkat yang lekat dengan alamat tersebut. Nah kalau mengingat heksadesimal yang digunakan pada IPv6, sulit bagi si penyerang untuk melakukan serangan seperti itu.

Kabar buruknya, IPv6 pun ternyata menjadi sebuah peluang baru bagi hacker. IPv4 menggunakan metode network address translation (NAT) untuk “mengaburkan” alamat IP yang dituju. Namun IPv6 membuat infrastruktur jaringan terbuka lebar jadi perusahaan butuh aplikasi pintar lain di atas firewall untuk melindungi perangkat.

Masalah lain adalah pada kebijakan sekuriti. Kebijakan yang ditulis untuk infrastruktur IPv4 tidak bakal bisa diaplikasikan di IPv6. Misalnya, bagaimana kebijakan tentang konfigurasi dinamis IPv6. Tantangan lain adalah membuat solusi enterprise yang terkoneksi ke internet, seperti CRM dan billing system terkoneksi dengan baik dengan IPv6. Agaknya banyak PR yang harus diselesaikan departemen TI untuk menuju IPv6.

Celebrate World IPv6 Day

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s