Mendongkrak Kinerja Bisnis dengan Enterprise 2.0


E-mail bukan teknologi baru bagi kebanyakan orang di masa sekarang. Sudah bertahun-tahun orang mengenalnya, jauh sebelum Friendster, Facebook, Twitter, LinkedIn, dan lain-lain hadir. Perkembangan ragam teknologi yang dinamai Web 2.0 telah mendorong berlangsungnya komunikasi yang intensif.

Bila di masa awal, teknologi Web 2.0 digunakan sebatas urusan  pribadi, kini untuk memanfaatkan teknologi ini di dalam organisasi semakin menguat. Tujuannya melancarkan proses-proses bisnis sembari membangun kolaborasi. Inilah yang oleh Andrew McAfee, guru besar di  Harvard Business School, diistilahkan sebagai Enterprise 2.0.

Sebagai strategi, Enterprise 2.0 membantu karyawan, pelanggan, dan pemasok untuk berkolaborasi, berbagi (sharing), dan mengorganisasi informasi. Berbagai platform social software (ada yang menyebutnya sebagai social computing) digunakan di dalam perusahaan, atau antar perusahaan dan mitra mereka atau dengan para pelanggan. Manfaat bisnis dari adopsi strategi Enterprise 2.0 memang dapat dipilah ke dalam tiga kategori: tujuan-tujuan internal, tujuan-tujuan yang berhubungan dengan pelanggan, dan kerjasama dengan mitra.

Fungsi-fungsi bisnis akan banyak terpengaruh oleh perkembangan ini, misalnya dalam hal komunikasi, kolaborasi, pengembangan produk, customer relationship management, pemasaran, operasional, dan solusi bisnis. Perannya jadi kian penting dalam kegiatan ekonomi yang sarat pengetahuan atau knowledge economy.

Banyak perusahaan mungkin sudah memiliki semacam intranet. Tapi, tuntutan fungsional untuk menggunakan social computing akan bertambah kuat lantaran karyawan, terutama muda usia,
sehari-harinya telah akrab dengan berbagai peranti Web 2.0. Dari  berbagai survei yang dilakukan di beberapa negara diketahui bahwa  pemanfaatan teknologi yang sudah diakrabi ini akan memudahkan mereka dalam bekerja, berkomunikasi, berkolaborasi, dan mengembangkan relasi dengan sesama karyawan maupun dengan pelanggan.

Blog korporat dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan pemimpin perusahaan. Eksekutif puncak bisa memberikan dukungan, menyebarkan spirit, atau pun membangkitkan inspirasi bagi karyawan melalui blog korporat. Bisa pula sebagai online journal serta forum untuk knowledge management. Google Inc. dan Facebook Inc. menjadi pionir dalam praktek ini di dalam perusahaan mereka sendiri.

Secara bertahap, blog korporat menjadi bagian dari standar alat komunikasi perusahaan. Fitur seperti tags dan rating membantu karyawan menemukan konten tertentu dan membuat penilaian atas kebijakan dan prosedur perusahaan.

Wiki korporat juga menyediakan lingkungan yang memudahkan para expert di lingkungan perusahaan untuk mempublikasikan penilaian mereka atas  suatu persoalan. Masalah yang ditemui di tingkat departemen dapat diangkat ke tingkat perusahaan jika memang dibutuhkan pemecahan yang bersifat lintas-departemen. Kolaborasi antar karyawan dimungkinkan pula. Pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman karyawan tidak akan menguap bersama kepergian karyawan itu, entah karena mengundurkan diri, masa pensiun telah tiba, atau sebab meninggal.

Gagasan yang beragam dapat dimunculkan dari bawah dan dari berbagai departemen. Sekat-sekat, dengan demikian, dirobohkan. Lantaran itulah, forum virtual dapat menjadi ruang inkubasi bagi gagasan sehingga menjadi matang berkat partisipasi banyak orang. Sejumlah perusahaan di Indonesia telah mempraktekkan virtual forum untuk berbagi ide, namun sayangnya nasib ide-ide yang dilontarkan karyawan seringkali tidak jelas.

Survei yang berlangsung di Finlandia awal tahun ini menggambarkan  persoalan yang dihadapi dalam pemanfaatan strategi Enterprise 2.0. Survei dengan responden orang-orang yang bekerja di berbagai perusahaan ini memberi gambaran bahwa pemahaman dan praktek Enterprise 2.0 masih terbatas, kurang dari 40%. Apa masalahnya? Kendala terbesar bagi adopsi ini terletak di jajaran manajemen, antara lain belum menjadikannya prioritas. Budaya perusahaan yang tidak kondusif juga menjadi rintangan.

Apabila penerapan teknologi Web 2.0 dalam kerangka bisnis bisa dijalankan dengan dukungan penuh manajemen perusahaan, hasil yang bagus berpotensi untuk diraih. Studi global mengenai adopsi Web 2.0 yang dilakukan oleh McKinsey menggambarkan secara impresif hal itu, yakni “69% responden melaporkan bahwa perusahaan mereka telah memperoleh  manfaat bisnis yang terukur, termasuk produk dan jasa yang lebih inovatif, pemasaran yang lebih efektif, akses yang lebih baik kepada pengetahuan, biaya yang lebih rendah untuk menjalankan aktivitas bisnis, serta revenue yang lebih tinggi.

Adopsi yang efektif bukan berarti memaksakan pemakaian teknologi ini kepada karyawan. Yang bisa dilakukan perusahaan ialah menyediakannya, memperlihatkan pada mereka nilai teknologi itu, dan kemudian mendorong berkembangnya budaya untuk memakainya.

Sumber

Mendongkrak Kinerja Bisnis dengan Enterprise 2.0

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s