Kiat Menguasai Industri Software Enterprise


TEMPO Interaktif, Jakarta – Peluang bagi industri perangkat lunak (software) di Indonesia saat ini makin terbuka dan menjanjikan, tapi juga memiliki hambatan besar, yaitu pembajakan.

“Yang memiliki peluang besar berkembang di Indonesia adalah industri software enterprise karena risiko pembajakan lebih kecil dibanding software mass market,” ujar Indra Sosrodjojo, Direktur Andal Software, dalam acara Biztalk di Jakarta, Rabu petang, 10 Agustus 2011.

Indra menyebutkan saat pelaku industri berniat masuk ke pasar software enterprise, mereka perlu menentukan secara cermat software apa yang akan dilempar ke pasar.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu

  • Memilih target pasar yang besar,
  • Ada revenue yang didapat secara terus-menerus
  • Customer yang mau melakukan upgrade software.


“Pasalnya, untuk fungsi tertentu, misalnya akunting, software yang digunakan tidak harus selalu di-upgrade karena prinsip akuntansi tidak mengalami perubahan. Jadi akunting bukan pilihan bagus,” ujarnya.

Ia mengatakan salah satu contoh yang memenuhi ketiga syarat itu adalah software untuk sistem penggajian. Sistem penggajian dari perusahaan yang memiliki karyawan lebih dari 300 orang, ujar Indra, sudah tidak bisa mengandalkan Microsoft Excel dan harus menggunakan software khusus.

Sementara itu sistem penggajian di Indonesia juga kerap mengalami perubahan mengikuti aturan baru, seperti peraturan mengenai pajak. “Artinya, setiap perubahan peraturan berarti software harus kembali di-upgrade oleh pengguna,” ujarnya.

Setelah produk sudah siap dilempar ke pasar, hal selanjutnya yang harus diperhatikan adalah mengenai model bisnis yang akan diambil. “Model bisnis yang berbeda dapat membuat satu perusahaan jatuh,” ujarnya.

Ia mengambil contoh persaingan antara Android dan Microsoft Mobile di mana si Robot Hijau memberikan aplikasi kepada pelanggannya secara gratis. Namun pada Microsoft harus membayar. “Seperti yang kita tahu sekarang, saat ini Microsoft sudah jauh tertinggal dari Android,” ujarnya menambahkan.

Ia mencatat ada tiga model bisnis yang cukup menonjol saat ini, yaitu

  • Freemium
  • Three Party Market
  • Multi Sided


Dalam model Freemium, produk diberikan secara gratis kepada customer. Namun bila mereka ingin menikmati layanan yang lebih, mereka harus membayar jasa upgrade produk. Contoh sukses dari model bisnis ini adalah Skype, yang pada tahun 2010 memiliki 663 juta user dengan keuntungan mencapai US$ 860 juta.

Model Three Party Market adalah memberikan produk secara gratis kepada pemakai, dan keuntungan berasal dari pihak ketiga, misalnya dari pemasangan iklan. “Contoh fenomenal yang menjalankan model bisnis dengan cara ini adalah Google,” ujar Indra.

Sementara model yang ketiga adalah Multi Sided, di mana perusahaan lain menjadi perantara yang menjual produk kita kepada konsumen. Indra memberikan contoh sukses, yaitu iTunes, toko musik terbesar yang berhasil mencapai 10 miliar download dalam tujuh tahun.

Indra mengatakan perubahan model bisnis tidak akan berhenti sampai ini saja. “Saya percaya perubahan model bisnis ini disetir oleh perkembangan teknologi. Akan terus berubah,” ujarnya.

Terakhir, Indra mengatakan bahwa pemasaran bisnis software dengan target pasar enterprise berbeda dengan yang dijual kepada khalayak luas. “Tidak mungkin produk yang dihargai dengan sangat mahal dipajang di rak toko,” katanya. Pemasaran software enterprise, katanya, dilakukan dengan pendekatan partnership kepada customer. “Tantangannya adalah bagaimana membangun keintiman dengan customer,” ujarnya.

Kiat Menguasai Industri Software Enterprise

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s