Generasi Millennial

gen y

Characteristics of Generation Millennial workers

Values

  • Self-expression is more important than self-control
  • Marketing and branding self is important
  • Violence is an acceptable means of communication
  • Fear living poorly—this is related to lifestyle enjoyment, not wealth
  • Respect must be earned; it is not freely granted based on age, authority or title

Attributes

  • Adapt rapidly
  • Crave change and challenge
  • Create constantly
  • Exceptionally resilient
  • Committed and loyal when dedicated to an idea, cause or product
  • Accept others of diverse backgrounds easily and openly
  • Global in perspective

Generation Y, sering juga di sebut Echo Boomers atau Millennial Generation malah ada yang menyebutnya Generation Next. Apapun sebutanya, mereka adalah anak-anak muda yang terlahir di awal tahun 80-an hingga akhir 90-an.

Mereka adalah workforce yang menyerbu dan akan mengendalikan bentuk organisasi di masa sekarang ini. Boleh dikatakan  dari 90% workforce ini bahkan lebih adalah  Gen Y, Generasi Millennial.

Apa istimewanya Gen Y? Kelompok tenaga kerja berusia 20 hingga 30 tahunan yang akan mendominasi keseluruhan angkatan kerja di Indonesia. Saat ini saja hal tersebut sudah terjadi di industri kreatif dan digital, dunia IT.

Banyak sekali studi sudah dilakukan mengenai Gen Y. Kelompok umur ini sangat menarik para peneliti ataupun publik karena mereka memiliki karakteristik unik yang mewakili era sekarang: era keterbukaan dan serba cepat dan instan yang salah satunya dipicu perkembangan teknologi informasi.

Sesuai dengan eranya, Gen Y memiliki sejumlah sifat, seperti sangat percaya diri, suka tampil, ambisius, yang sering kali menimbulkan efek samping: sulit diatur. Mereka bukan tipe yang manut-manut saja, tetapi selalu membutuhkan nalar dari setiap tindakan, untuk dicocokkan dengan nalar mereka sendiri.

Mereka bukan tipe yang mengikuti seseorang hanya karena senioritas ataupun jabatan. Mereka perlu merasa melakukan sesuatu atas dorongan inisiatif sendiri, bukan karena disuruh. Dalam DNA  darah mereka mengalir kebutuhan untuk membuktikan diri bahwa mereka bisa. Karena keinginan berprestasi sudah ada dari sananya (alami), bagi mereka, tugas manajemen (perusahaan) adalah menciptakan sebuah lingkungan agar dapat berprestasi maksimal.

Dari pengalaman pribadi, dalam mengatasi Gen Y dengan karakteristik seperti dikemukakan di atas, bila kita kebanyakan mengatur mereka, malah menimbulkan efek turn off, sehingga hasilnya tidak efektif.

Mereka membutuhkan lingkungan di mana mereka bisa bebas berekspresi sekaligus penuh tantangan. Mereka selalu haus untuk belajar hal baru, dan sebagai pengarahnya mereka membutuhkan pemimpin yang otentik.

Apa itu pemimpin yang otentik? Lynda Grayton dalam bukunya The Shift, the Future of Work is Already Here mengatakan: kepemimpinan yang dibutuhkan saat ini dan untuk mengantisipasi masa depan adalah kepemimpinan yang transparan dan otentik. Sesuai dengan definisi kata-kata otentik, maka pemimpin yang otentik mungkin bisa diartikan secara sederhana ya… berarti benar-benar pemimpin.

Pemimpin sejati atau true leader bukan hanya sebuah posisi. Ini untuk membedakan antara kepemimpinan dengan posisi. Di era kini Anda bisa saja mempunyai posisi yang berkuasa, tetapi tidak secara otomatis menjadikan Anda seorang pemimpin. Di sinilah yang membuat memimpin Gen Y tidaklah mudah. Banyak yang mengeluh sulit mengatur kelompok umur ini.

Posisi dan otoritas bukanlah pasangan secara alami. Tidak jarang, Anda harus bekerja keras mendapatkan (earn) otoritas (authority) itu.Namun hanya true leader yang mendapatkan (earned) otoritas melalui pembuktian secara konstan akan siapa dirinya.

Bill George, profesor Harvard Business School, dalam satu studinya yang terkenal tentang kepemimpinan menyimpulkan: seseorang tidak perlu terlahir dengan karakteristik tertentu untuk bisa memimpin. Anda juga tidak perlu menduduki posisi teratas dalam suatu organisasi. Siapa pun bisa menjadi seorang pemimpin sejati. Perjalanan ini dimulai dari pemahaman yang baik tentang diri sendiri dan terus belajar dari pengalaman.

Pemimpin sejati selalu menyisihkan waktu untuk memeriksa kembali dan merenungkan pengalaman mereka, dengan cara ini mereka terus bertumbuh sebagai individu ataupun pemimpin. Karena pemahaman yang baik tentang diri sendiri adalah kuncinya, maka penyangkalan diri (denial) adalah musuh utama pemimpin otentik. Pemimpin otentik tidak takut, bahkan selalu meminta dan mendengarkan masukan dari bawahannya.

Bill George juga berpendapat, kepemimpinan yang otentik adalah syarat untuk pencapaian bisnis jangka panjang. Mungkin Anda bisa mendapatkan hasil jangka pendek tanpa menjadi otentik. Toh, kepemimpinan otentik adalah satu-satunya jalan untuk menciptakan hasil jangka panjang. Dalam bahasa sederhananya, berani terbuka dan transparan. Sudah tidak zamannya lagi menutup-nutupi, bersembunyi di balik posisi/jabatan.Anda harus semakin rajin belajar, membaca, bergaul, memperluas wawasan, jangan sampai kalah oleh bawahan Anda.

Saat ini tidak mungkin lagi Anda bisa menyuruh bawahan Anda melakukan sesuatu, padahal bawahan Anda tidak melihat Anda “capable” dalam melakukan tugas tersebut. Selamat datang ke dunia yang serba terbuka. Ini adalah era Gen Y. Anda belum menjadi pemimpin kecuali Anda berhasil memimpin generasi millenial ini.

Advertisements
Generasi Millennial

KIA

 

Kalau semua orang, setelah lulus dari universitas, lantas mendapatkan pekerjaan sesuai dengan harapan dan cita-citanya, maka betapa indahnya hidup ini. Tapi, hal seperti itu hanya terjadi dalam dunia ideal. Sedangkan dalam kenyataan sehari-hari, kehidupan lebih sering berjalan jauh dari situasi yang kita idealkan. Sudah bukan cerita baru lagi kalau banyak lulusan teknik yang akhirnya, karena berbagai faktor dan keadaan yang memaksa, bekerja di bank atau lulusan pertanian ujung-ujungnya menjadi wartawan.

Pada umumnya bila seseorang akan melakukan sesuatu jelas ada tujuan tertentu yang hendak dicapainya. Demikian juga halnya dengan perusahaan, tujuan yang hendak dicapai salah satunya adalah hasil kerja atau disebut kinerja.

Untuk dapat memiliki kinerja yang tinggi dan baik,maka seorang karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya harus memiliki keahlian dan ketrampilan yang sesuai dengan pekerjaan yang ditekuninya.Tapi apakah hanya itu saja ?

Dalam mengukur kemampuan sekurangnya ada tiga poin..lebih mudah di ingat jika di singkat ” KIA ”

know

Knowledge

Kemampuan yang dimiliki karyawan yang didapatkan dari proses belajar serta bisa juga dari pengalaman. Dimana setiap karyawan memiliki pengetahuan yang berbeda, begitu juga pekerjaan yang dilaksanakan membutuhkan pengetahuan yang berbeda pula, sehingga karyawan berusaha untuk mempertemukan pengetahuan yang dimiliki dengan tuntutan kebutuhan pekerjaan tersebut.

iniitiative

Initiative

Merupakan gambaran dimana seorang karyawan sanggup memikul tanggung jawab dalam melakukan pekerjaan tanpa harus menunggu instruksi secara terperinci dari atasan, yang berarti karyawan tersebut memiliki inisiatif yang tinggi.

attitude

Attitude 

Merupakan gambaran dari sikap karyawan yang tidak terbatas hanya pada pekerjaan yang dihadapi tetapi juga harus memperhatikan sikap terhadap orang lain. Sikap positif terhadap orang lain dapat tercermin pada bentuk kerja sama dan hubungan kerja yang saling menguntungkan, memiliki rasa tanggung jawab dan bersedia menerima saran dan kritik yang positif.

Setuju kah?

Aside

Menuju Virtualisasi 2.0

cloud_computing

Setahun yang lalu, menurut Aberdeen, milestone terbesar dalam IT baru saja terlewati – Tahap I dalam revolusi virtual telah berakhir. Dalam tiga tahun terakhir, Aberdeen telah mengikuti tren di bidang virtualisasi, dan telah menemukan bahwa pada saat ini, 55% dari aplikasi sekarang sudah disebarkan di server virtual (hypervisors). Dari aplikasi yang disebarkan di server virtual, 65% dari mereka merupakan aplikasi yang Aberdeen sebut dengan  “aplikasi kecil” atau aplikasi yang tidak berpengaruh penting kepada bisnis (tes, pengembangan, dan e-commerce).

Aplikasi-aplikasi ini ini telah disebarkan terutama untuk mendapatkan manfaat dari konsolidasi server. Menurut Aberdeen, banyak perusahaan yang telah di-virtualisasi memiliki tingkat konsolidasi server sebanyak 10-12 aplikasi per server, pengurangan di jumlah peternakan server sebanyak 33%, dan daya/pendinginan/ruang dihemat sebesar 80% dari tahun sebelumnya.

Aplikasi yang penting bagi bisnis (email, database, dan aplikasi bisnis), atau apa yang Aberdeen sebut dengan “Aplikasi tingkat satu”, disebarkan dalam tingkat yang lebih rendah; hanya 30-35% dan tingkat ini tidak berubah banyak selama tiga tahun terakhir.

Tetapi itu semua akan segera berubah. Sekarang kita bergerak ke Tahap II, atau yang Aberdeen deskripsikan sebagai “memvirtualkan aplikasi yang paling penting”. Tahap ini tidak lagi berfokus kepada manfaat dari konsolidasi server, tetapi pada “keuntungan operasional” yang didapati dari virtualisasi. Dengan VMware’s vSphere 5 yang telah diluncurkan kepada publik pada Agustus 2011, mesin virtual sampai dengan 32 core atau sampai dengan terabyte memori sekarang dapat didukung. Hampir semua aplikasi dapat mendapatkan keuntungan dari virtualiasasi.

Dan tahap II akan lebih di kenal sebagai era-nya cloud computing

CC

Ada dua istilah yang sedang populer saat ini dalam hal teknologi komputasi, yaitu Virtualisasi dan Cloud Computing, namun saat ini sepertinya banyak yang menganggap bahwa virtualisasi dan cloud computing adalah hal sama, padahal sebenarnya cloud computing lebih dari sekedar virtualisasi.

Virtualisasi adalah sebuah teknologi, yang memungkinkan Anda untuk membuat versi virtual dari sesuatu yang bersifat fisik, misalnya sistem operasi, storage data atau sumber daya jaringan. Proses tersebut dilakukan oleh sebuah software atau firmware bernama Hypervisor. Hypervisor inilah yang menjadi nyawanya virtualisasi, karena dialah layer yang “berpura-pura” menjadi sebuah infrastruktur untuk menjalankan beberapa virtual machine. Dalam prakteknya, dengan membeli dan memiliki satu buah mesin, Anda seolah-olah memiliki banyak server, sehingga Anda bisa mengurangi pengeluaran IT untuk pembelian server baru, komponen, storage, dan software pendukung lainnya.
Sedangkan cloud computing adalah sebuah teknologi yang menggabungkan virtualisasi dan grid computing. Jadi selain ada proses virtualisasi,juga terdapat grid computing, dimana seluruh beban proses komputasi yang ada akan didistribusikan ke berbagai server yang saling terhubung di dalam cloud, sehingga prosesnya akan jauh lebih ringan. Dengan menggabungkan proses virtualisasi dan grid computing, Anda akan mendapatkan efisiensi dan hasil performa yang sangat optimal dalam proses komputasi. Dengan cloud computing, seolah-olah Anda memiliki infrastruktur super besar yang mampu melakukan proses komputasi dan penyimpanan data tanpa batas, padahal secara fisik, Anda tidak memiliki atau membeli apa-apa, semuanya berada di dalam “cloud” yang dapat Anda gunakan secara on-demand dan dapat diakses melalui jaringan private maupun publik.

Kesimpulannya, cloud computing lebih dari sekedar virtualisasi. Cloud computing merupakan gabungan antara teknologi virtualisasi dan grid computing. Tentunya implementasi cloud computing mampu memberikan hasil yang jauh lebih efisien dan powerfull dalam hal proses komputasi dan pengelolaan resource IT secara terdistribusi.

 

Menuju Virtualisasi 2.0