Edisi Cinta Indonesia


Mengembalikan  kejayaan Majapahit / Sriwijaya ?

majapahit-empire

Salah satu kejadian yang menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa pekerja adalah
diberlakukannya sistem tanam paksa pada abad ke-18. Sistem tanam paksa adalah peraturan
yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch yang mewajibkan setiap
desa menyisihkan 20% tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan
tarum (nila). Hasil tanaman ini akan diserahkan dan dijual kepada pemerintah kolonial dengan
harga yang sudah dipastikan. Bagi penduduk desa yang tidak memiliki tanah, mereka harus
bekerja 75 hari dalam setahun pada kebun-kebun milik pemerintah.

Akibat dari sistem tersebut, masyarakat petani mulai memanfaatkan lahan pekarangan rumah
dan mempekerjakan perempuan dan anak-anak mereka untuk bertahan hidup. Selain sistem
tanam paksa, kerja rodi dan romusha yang dilakukan oleh masyarakat pribumi pada zaman
penjajahan juga membuat bangsa kita terbiasa menjadi kuli yang bekerja hanya dengan otot.

tanam-paksa

Bahkan Bung Karno pernah mengutip kalimat dari bangsa penjajah kita dalam menganggap
dan memperlakukan bangsa Indonesia, yaitu “Eine nation von Kuli und Kuli unter den
Nationen” atau “A nation of coolies and a coolie among nations”.

Seorang ahli psikologi, David McClelland berpendapat bahwa suatu negara akan
makmur bila memiliki entrepreneur (pengusaha) sedikitnya 2% dari jumlah penduduk.

Asumsikan 2% dari penduduk Indonesia (sekitar 4,75 juta orang) adalah wirausahawan yang
mempekerjakan 15 kepala keluarga sebagai karyawan dengan gaji cukup. Jika setiap
karyawan memiliki 4 orang tanggungan, maka 4,75 juta x 15 x 4 = 285 juta orang akan
mendapatkan nafkah.

Hal tersebut memang terkesan sangat ideal, tapi faktanya Indonesia saat ini hanya memiliki
0,18% entrepreneur dari total jumlah penduduknya. Bandingkan dengan negara maju,

Singapura memiliki angka 7,2% dan 11,5% bagi Amerika. Oleh karena itu, tidak salah bila
kemajuan negara diukur dari jumlah wirausahawan di negara tersebut.

Selain motivasi, nilai-nilai hakiki wirausaha juga harus ditanam pada diri masyarakat,
terutama kreativitas dan sikap pantang menyerah. Kita selalu melihat pedagang kaki lima
selalu membanjiri di tempat keramaian, tetapi kebanyakan usaha mereka tidak berkembang.
Tukang baso keliling tetap mendorong roda walaupun telah puluhan tahun berjualan.

Jika saja tukang baso itu menciptakan resep ato pelayanan yang unik dan tidak takut gagal,pasti usahanya akan berkembang hingga dapat membuka cabang baru.

Usaha dengan tingkat persaingan yang tinggi hanya dapat bertahan dengan keunikan !

Bangsa Indonesia sebenarnya memendam kreativitas yang tinggi. Selain memiliki bahasa
daerah terbanyak, kesenian, kerajinan, dan makanan tradisional Indonesia juga sangat
beragam. Hal tersebut menunjukkan bahwa nenek moyang kita telah memanfaatkan
kreativitasnya sejak dahulu. Kesadaran akan jati diri Indonesia lah yang seharusnya dapat
membangkitkan kreativitas bangsa.

Ada satu pendorong kreativitas yang sangat bermanfaat, yaitu passion.

Passion atau bisa disebut dengan hasrat adalah kebiasaan seseorang yang jika dikerjakan lama pun tidak akan membuat lelah atau bosan. Hasrat layaknya hobi akan selalu menimbulkan kesenangan dan kepuasan. Bekerja dengan mental  “coolies” mungkin hanya akan mendapatkan bayaran, tetapi bekerja dengan mind-set entrepreneur akan mendapatkan semuanya.

It’s work, play, and love.

images

Dari berbagai sumber.

Edisi Cinta Indonesia

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s