Nasib Atau Pilihan ?


Kontempelasiku

Sungguh malang nasib pengangguran. Bangun siang, habis itu jalan-jalan entah kemana. Menghabiskan waktu dan uang. Pengeluaran jalan terus, pemasukan nol. Hidup tak jelas, kosong, hampa. Tak ada cita-cita. Tak ada harapan. Pasrah. Dasar nasib.

siluet-orang-laki-merenung-sore

Pengangguran, nasibmu atau pilihanmu?

Hidup apa adanya mengalir tanpa tujuan. Ikut arus kemana air mengalir dia mengikuti saja. Seringkali terombang-ambing kesana kemari tidak jelas apa yang dicari.” Yang penting gue senang, apa kata orang emang gue pikirin”,  begitu semboyannya.

Pengangguran adalah suatu profesi. Profesi pengangguran, yang kerjanya ya nganggur dan nganggur. Hidup tidak mulia dengan menjadi pengangguran. Tetapi entah kenapa seiring waktu berjalan, umur bertambah, kebutuhan meningkat. Seolah hidup terarahkan untuk menjadi pengangguran. Seolah-olah menjadi pengangguran itu sudah nasib. Sudah takdir. Sudah rumusnya dari yang bikin hidup.

Atau memang pengangguran itu sudah tersistem. Memang sengaja diciptakan supaya banyak orang yang ngangur?

Dengan banyaknya pengangguran, ongkos tenaga kerja jadi murah dan para pengusaha tidak tersaingi. Atau itulah keinginan sebagian orang-orang yang tidak ingin orang lain maju, bangsa lain maju, tenaga lain maju. Mereka hanya memikirkan dirinya, keluarga dan perusahaannya. Mereka kelas kaum individualis.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka.”

Perubahan. Ya semua orang ingin berubah. Berubah ke arah yang lebih baik.

Dari pengangguran menjadi mempunyai pekerjaan. Dari memiliki pekerjaan menjadi memiliki usaha. Dari memiliki usaha menjadi berlipat ganda. Begitu seterusnya. “perubahan itu perlu” begitu bunyi iklan rokok (yang tak nyambung)

Siapa pun yang ingin berubah. Pertama-tama dia harus sadar. Sadar bahwa dirinya banyak kekurangan, banyak kelemahan, banyak kebodohan, banyak melakukan pekerjaan yang tidak semestinya.

Untuk menjadi lebih baik, lebih maju, mulailah bermimpi. Karena mimpi itu cita-cita. Dan cita-cita itu separuh dari sukses. Bayangkanlah dirimu yang sempurna, yang terbaik menurut pandanganmu. Dirimu yang ideal.

Persedikit kekurangannya, kelemahannya dan tingkatkan kelebihannya. Pupuk terus hingga menutupi kekurangan dan kelemahannya.

Pilihan menentukan nasibmu.

betterorworst

Siapa yang ingin menjadi pengangguran maka ia akan menuai hasilnya. Menjadi pengangguran sukses (pengangguranyang telah lama sekali menganggur)

Siapa yang ingin berubah maka ia harus menyadari dan memulai untuk memperbaiki dirinya.

Siapa yang ingin sukses, maka ia harus berani membayar harganya. Harga bekerja keras, berpikir keras, giat, tekun, ulet, sabar ,belajar dan terus belajar.

Nasibmu ada di tanganmu. Kaulah yang bertanggung jawab 100 persen terhadap keputusanmu. Orang lain hanya membantu. Membantu mengingatkan, menyadarkan, membimbing dan mengarahkan itu pun jika berkenan. Sungguh semua ada di tanganmu. Maka hati-hatilah dengan pilihanmu.

Pendidikan kita, budaya kita, keseharian kita, pola hidup kita, sosial kita mendukung terciptanya pengangguran. Sehingga menyelesaikan pengangguran tidaklah mudah. Karena sudah menjadi tradisi. Sudah menjadi bagian hidup kita. Banyak pengangguran. Yang ujung-ujungnya serabutan, asal dapat uang, asal bisa makan, asal dapat kerja. Kerjanya pun asal-asalan.

Pendidikan kita.

jobhunter

Tiap tahun sekolah-sekolah kita, smp, sma, smk bahkan universitas menciptakan ratusan bahkan ribuan calon pengangguran baru. Lulusan-lulusan yang tidak punya skill, tidak kreatif, mentalitas pencari bukan pencipta kerja. Sehingga dipastikan di tengah terbatasnya lowongan pekerjaan ada ribuan pelamar kerja. Sudah barang tentu banyak yang tidak diterima. Kemana mereka? Nganggur jawabanya

Budaya kita.

Budaya tidak disiplin, jam karet, budaya tidak mau antri, buang sampah sembarangan ditambah budaya konsumtif dan budaya korupsi sudah menempel kuat menjadi ciri orang indonesia. Budaya kuli, santai, budaya pegawai lebih dihargai daripada wirausaha. Itulah budaya kita yang telah tertanam lama dari generasi ke generasi. Budaya mentalitas terjajah yang terus-menerus turun-temurun dari zaman kolonial Belanda sampai sekarang.

Sungguh tragis sampai sekarang tidak ada pemimpin bangsa yang sanggup merubah budaya itu. Itulah budaya yang menhambat kita untuk maju. Untuk bebas dari pengangguran.

Keseharian kita.

Hari-hari kita banyak berlalu sia-sia. Terlewatkan begitu saja. Tanpa hasil, tanpa makna. Mubazir, begitu singkatnya. Padahal waktu tidak pernah kembali, tidak akan pernah terulang. Semua yang telah terlewatkan tidak akan balik lagi.

Waktumu adalah modalmu. Jangan sia-siakan waktumu. Isilah dengan hal-hal yang bermakna. Karena suatu saat waktumu (jatah hidupmu) akan dimintai pertanggung jawaban. Oleh yang punya waktu (Allah yang maha kuasa)

Hari-hari kita yang diisi dengan rasa malas, santai, tidak ada ruh semangat untuk berkarya, untuk berjuang. Maka itulah yang mendukung orang untuk menjadi pengangguran.

Sosial kita.

Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Yang kaya tidak perduli yang miskin, yang miskin kadang sok kaya. Itulah yang terjadi.

Yang kaya tidak mau berzakat, berbagi rizki, berbagi modal, berbagi ilmu bagi si miskin. Agar si miskin ter-angkat taraf hidupnya.

Dan si miskin tidak mau belajar, berjuang, bekerja keras untuk mengangkat kondisi ekonominya, tapi malah malas, nyantai dan menikmati kemiskinannya. Merasa senang ketika dikasihani. Merasa bangga dikatakan orang miskin. Suka berhutang untuk mengatasi kesulitannya. Dan malas menyadari bagian hari-harinya.

Orang seperti itu senang ketika menjadi pengangguran dan suntuk ketika harus bekerja.Sungguh nestapa…

Sumber 

Nasib Atau Pilihan ?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s