MEA 2015 – E2E


e2e-a

Image credit : Flickr

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, ya beberapa bulan lagi kita akan memasuki pasar bebas ASEAN. Dimana akan terjadi arus perdagangan bebas, yakni masyarakat Indonesia akan dipermudah menjual dagangannya ke luar negri (ASEAN), pun sebaliknya – masyarakat ASEAN tidak dipersulit menjual dagangannya di tanah ibu pertiwi ini.

Tidak hanya kategori barang saja yang termasuk dalam arus pasar bebas, melainkan pasar tenaga terampil atau professional pun juga diikutkan dalam MEA 2015, ya secara garis besar begini; tidak ada aturan pembatasan tenaga kerja asing untuk bekerja di Indonesia, pun sebaliknya kita akan dipermudah bekerja di luar negri (ASEAN).

Jadi, kalau tenaga kerja Indonesia tidak memiliki kualitas yang bagus, siap-siap mencari pekerjaan di negara sendiri akan jauh lebih susah dibanding sekarang, sebab logikanya begini; perusahaan-perusahaan akan lebih memilih tenaga asing professional yang bisa berbahasa inggris dan berbahasa Indonesia (bahasa Indonesia termasuk syarat bekerja di Indonesia) daripada tenaga local yang kemampuannya belum setara dengan tenaga asing. Jadi sudah bisa dilihat kan arah nasib “calon-calon karyawan” dari lokal?

Apalagi kompetensi tenaga kerja terdidik Indonesia belum cukup mumpuni. Hal itu diperparah dengan banyaknya penganggur yang berkualifikasi pendidikan tinggi di negara Asean lainnya. Catat, data “tetangga sebelah “,  80% pengangguran di Singapura merupakan tenaga kerja terdidik.

Berdasarkan data Kemenakertrans, tenaga kerja asing tumbuh 18,70%, menjadi 68.957 orang pada 2013, pada tahun sebelumnya 2009 sebesar 58.091 orang. Adapun, level jabatan tersebut a.l. profesional, konsultan, manajer, direksi, supervisor, teknisi hingga komisaris.

Tenaga kerja asing asal China menjadi paling besar sumbangannya terhadap total tenaga kerja asing pada 2013, yakni 14.371 orang. Disusul Jepang sebesar 11.081 orang, Korea Selatan 9.075 orang, India 6.047 orang, Malaysia 4.962 orang, AS sebesar 2.197 orang.

Dilihat dari sisi sektor usaha, tenaga kerja asing lebih banyak bekerja di sektor perdagangan dan jasa, yakni 36.913 orang. Disusul sektor industri sebanyak 24.029 orang, dan sektor pertanian mencapai 8.015 orang.

Pemerintah perlu belajar dari negara Asean lainnya, dalam menerapkan kebijakan dan sertifikasi untuk tenagakerja.

Ada pilihan atau jalan keluar dari kondisi tsb menjadi “penggangguran total”, jadi “orang yg banyak usaha” alias pengusaha atau bahasa kerennya Entrepreneurship,

e2e

Sudah siap untuk bertransformasi E2E ?

Atau jika tetap pilih E2E..Employee to Employee ?

choose

Jadilah  employee  / karyawan  yang PRO !  (aka . Proffessional) yang memiliki kompetensi dan sertifikasi global yang di akui baik didalam maupun di luar negeri.

Bukan pilihan mudah tetapi  belum tentu juga sulit bukan?

sumber :

blogdetik.com; lsp.telematika.co.id

MEA 2015 – E2E

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s