Bukan Yang Biasa


Di era tahun 50-an.. adalah awal dari rencana pembangunan Istiqlal, masjid terbesar di Asia tenggara. Arsiteknya  cuma tamat STM !

Friedrich Silaban (1912-1984)

Namanya mewangi. Di manakah dia kuliah ilmu arsitektur? Lelaki tamatan sekolah dasar di Desa Narumonda ini ternyata cuma mengenyam pendidikan tertingginya di sebuah STM di Jakarta; tak pernah sama sekali menjadi mahasiswa arsitektur!

“Aku seorang arsitek, tapi bukan arsitek yang biasa,” tulis Silaban kepada seorang pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1968 saat menawarkan jasanya. Hebat, menantang dengan penuh percaya diri.

Sejarah Berulang

susi-air

Susi Pudjiastuti : Adalah legenda tentang perempuan pemberani

Susi bukanlah pengusaha biasa di Pangandaran. Ia merupakan anak ketiga pasangan Haji Karlan dan Suwuh Lasmi, orang kaya di wilayah itu. Saat masih kelas lima sekolah dasar saja Susi sudah diajari menyetir mobil Land Rover sang ayah.

Bagi warga Pangandaran, Susi merupakan penjelmaan Karlan. Mereka sangat mirip. Lagak bicara dan kebiasaan Susi menyetir mobil benar-benar mirip Karlan. “Susi memahami cara bapaknya berbincang dengan nelayan sehingga cepat akrab,” tutur Slamet.

Memiliki nama besar bapak dan moyangnya, Susi tetap tidak mau berpangku tangan. Ia memilih jalan hidup berliku. Sejak remaja, ia tidak mau bergantung pada kekayaan ayahnya.

Saat krisis moneter melanda Indonesia pada  1997, bisnis ekspor hasil laut dan pabrik pengolahan ikan milik Susi morat-marit. Rupa-rupa cara dilakukan Susi buat menyelamatkan usahanya,termasuk menjual semua mobilnya.

Pada episode terpuruk itu, yang tersisa hanya mobil minibus Mitsubishi L300. Tapi Susi cuek saja naik mobil itu, bahkan saat bertemu dengan petinggi sekalipun.

Namun itu rupanya tidak cukup. Tetangga Susi, Slamet, bercerita, saat itu bank mulai menyegel aset-aset Susi di Pangandaran.

Tapi krisis yang membuat nilai tukar rupiah merosot itu jadi berkah tersendiri.Susi misalnya mulai menjual ikan layur, yang pada 1990-an itu harganya hanya Rp 700 per kilogram.

Karena harga layur murah, nelayan Pangandaran hanya menjadikannya lauk di rumah.Tapi Susi menemukan jalan mengekspornya ke luar negeri, yang laku hingga Rp 12 ribu per kilogram karena tingginya nilai dollar. Untung besar, bisnis Susi tak jadi bangkrut, malah belakangan membeli pesawat buat mengekspor hasil laut.

Menjadi satu-satunya menteri dalam Kabinet Kerja Jokowi JK yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Wanita nyentrik yang didapuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan ini tidak lulus SMA, alias cuma berijazah SMP

Memutuskan berhenti dari bangku kelas 2 di SMAN I Yogyakarta.
Setelah tidak bersekolah lagi, Susi memulai profesi sebagai pengepul ikan di Pangandaran. Dengan modal Rp 750 ribu hasil menjual perhiasan, pada 1983, Susi memulai bisnisnya. Pada 1996 dia kemudian mendirikan pabrik pengolahan ikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product dengan produk unggulan berupa lobster dengan merek “Susi Brand”.

Ketika bisnis pengolahan ikannya meluas dengan pasar hingga ke Asia dan Amerika, Susi memerlukan sarana transportasi udara yang dapat dengan cepat mengangkut lobster, ikan, dan hasil laut lain kepada pembeli dalam keadaan masih segar.

Dengan pesawat, berapa pun hasil laut yangada langsung dikirim ke eksportir besar di Jakarta.“Mutunya beda kalau dikirim sehari sama ditunggu satu bulan baru kirim.”

Dua pesawat buat mengangkut hasil laut itulah yang dibawa Susi buat mengantar bantuan ke Aceh, yang baru saja dilanda gelombang tsunami.
Terbang membawa bantuan ke Meulaboh dan Pulau Simeulue ini membawa berkah tersendiri buat Susi.

Pertama, Susi bisa masuk dan berbisnis lobster di Simeulue, yang sebelumnya
tak terjangkau pesawatnya karena tak ada perusahaan asuransi yang mau menjamin penerbangan ke daerah konflik.
Berkah kedua dari mengantar bantuan ke korban tsunami Aceh adalah ide mengubah Susi Air dari pesawat kargo ke maskapai komersial.

Ide itu muncul setelah dua pesawat Susi Air untuk sementara ditaruh di medan karena dicarter para relawan serta aktivis lembaga swadaya masyarakat lokal dan asing yang hendak masuk Aceh. Seusai masa tanggap darurat tsunami itu, Susi mulai merintis rute komersial di sekitar Medan pada 2006 memakai dua pesawat itu.

Perlahan tapi pasti, ia menambah armadanya hingga mencapai 50 pesawat yang melayan 204 rute. Kini Susi Air punya 23 basis operasi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Amerika

Bukan Orang Biasa

Walaupun hanya lulusan SMP, Susi menerima banyak penghargaan antara lain Pelopor Wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat tahun 2004, Young Entrepreneur of the Year dari Ernst and Young Indonesia tahun 2005, serta Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter 2005 dari Presiden Republik Indonesia.

Tahun 2006, ia menerima Metro TV Award for Economics, Inspiring Woman 2005 dan Eagle Award 2006 dari MetroTV, Indonesia Berprestasi Award dari PT Exelcomindo dan Sofyan Ilyas Award dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2009.

Jim Geovedi: Meretas Satelit di Langit

satelite hack

Image credit: hack6.com

Dia adalah hacker Indonesia dengan reputasi global: hilir mudik Berlin, Amsterdam, Paris, Torino, hingga Krakow menjadi pembicara pertemuan hacker internasional yang sering dibalut dengan nama seminar sistem keamanan. Dalam sebuah pertemuan hacker dunia, Jim memperagakan cara meretas satelit: ya, Jim bisa mengubah arah gerak atau bahkan menggeser posisi satelit.

Tidak, Jim bukan lulusan sekolah IT ternama. Lulus SMA, Jim menjalani kehidupan jalanan yang keras di Bandar Lampung sebagai seniman grafis. Beruntung seorang pendeta memperkenalkan dia dengan komputer dan internet. Sejak itu, Jim Geovedi belajar secara otodidak: menelusuri ruang-ruang chatting para hacker dunia. Dan sekarang ?

Indonesia memerlukan lebih banyak  “bukan orang biasa” dan “bukan kumpulan sarjana kertas’

Antitesis

Dari berbagai sumber.

Bukan Yang Biasa

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s