People Development Zaman Now

Untuk mampu tetap bertahan di masa depan, para incumbent menghadapi dua tantangan yang tidak ringan. Pertama, perubahan eksternal yang sangat revolutif, bahkan eksponensial. Akronim VUCA – volatility, uncertainty, complexity, ambiguity – sudah menjadi sangat lazim digunakan untuk menggambarkan lanskap bisnis saat ini. Tentunya masa depan kian tak mudah untuk digambarkan.

Revolusi digital yang sedemikian cepat dan masif menjadi pemicu, sekaligus pemacunya. Di dunia internet, gelombang pertama, yaitu connecitivity , sudah terlampaui. Ketika kita masih gagap menikmati gelombang kedua, media sosial dan bisnis digital, internet sudah memasuki gelombang ketiga, internet of things , atau internet of everything . Bahkan gelombang keempat, internet of value atau internet of trust, sudah mengintip, dengan diekplorasinya teknologi block chain.

Pertarungan bisnis model menggantikan ramuan strategi marketing konvensional. Keajaiban digital menjadi enabler bagi para new entrants untuk memasuki pasar yang semula dikuasai para incumbent
besar yang sudah mapan dan jumawa.

Satu per satu mereka bergelimpangan, semata karena tiba-tiba kehilangan relevansinya. Tidak sampai di situ, bahkan yang hilang bukan sekadar perusahaannya, namun juga industrinya sekaligus. Batas-batas antara satu industri dengan yang lain kian kabur dan menjadi tidak relevan. Muncul sejumlah industri baru dengan definisi yang sama sekali berbeda. Konsekuensinya, sejumlah profesi lenyap, beriringan dengan munculnya sejumlah profesi baru.

Di sisi lain, incumbent juga berhadapan dengan tantangan internal yang tak kalah menggetarkan. Meningkatnya ukuran perusahaan tak selalu menjadi berkah. Ia juga menyimpan potensi krisis akibat melemahnya founder’s mentality . Akibatnya, daya dukung internal menjadi rapuh, pertumbuhan terus melambat, dan akhirnya perusahaan terjun bebas ke titik nadirnya tanpa bisa ditahan lagi oleh manajemen.

Untuk merespons “tsunami” tersebut, bagaimana SDM harus dipersiapkan? Pertanyaan tersebut menjadi semakin krusial untuk dijawab karena proporsi SDM organisasi semakin didominasi oleh para millenials yang memiliki cara berpikir yang sangat berbeda dengan generasi pendahulunya.

Satu di antara pembeda itu, mereka tidak lagi bicara work-life balance , melainkan work-life integration .
Betul bahwa sejumlah kompetensi baru, utamanya di seputar teknologi digital, menjadi menu wajib yang harus ditelan oleh SDM zaman now untuk tetap kompetitif. Namun, potensi goncangan yang sedemikian dahsyat menuntut ketangguhan pribadi kelas satu pula untuk menghadapinya.

Di satu sisi big data analytics, machine learning, aritificial intelligence, dan serenceng digital technology competencies lainnya memang dibutuhkan untuk menjadi pemenang. Namun sejumlah soft-competencies yang mampu memastikan tetap terjaganya quality of life sebagai manusia yang berbahagia menjadi semakin relevan pula untuk diperkokoh.

Di tingkat individu, menemukan visi pribadi, keyakinan diri dan tata nilai personal, menjadi hal yang sangat krusial. Ketiga komponen modal spiritual tersebut akan membuat seseorang mampu memberikan makna yang kuat dan mendalam terhadap hidup dan kehidupannya, sehingga ia menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi tekanan eksternal. Setidaknya, ia mampu memotivasi dirinya sendiri di tengah lingkungan sosial dan profesional yang mungkin sekali tak sepenuhnya bersahabat.

Di tingkat organisasi, membangun budaya organisasi yang kuat menjadi keniscayaan. Di satu sisi, budaya tersebut harus menjamin terciptanya sebuah atmosfir yang sangat terbuka terhadap perubahan dan inovasi yang eksponensial, serta mendorong organisasi untuk bergerak secara agile dan taktis. Namun di sisi lain, budaya tersebut harus memastikan founder’s mentality tetap terpelihara dan terus-menerus diperbaharui, sebagai sumber kekuatan kolektif untuk memenangkan tantangan revolusi digital hari ini dan esok.

IMG_20160903_180124

Sumber

People Development Zaman Now