i3 – Intelligent Integrated Infrastructure

mie-instant

Apapun yang serba instant ternyata jadi sangat populer dan digemari. Mie instant produk Indonesia di klaim sebagai yang ter-enak (note: rendang tetap jadi makanan ter-enak di dunia).

Berterimakasih-lah pada generasi mie instant (80-90-an) yang telah menciptakan banyak “produk instant” yang menjadi trend saat ini.

Generasi yg kurang sabaran..ingin-nya cepat, mudah, minim hirarki dan tanpa bumbu2 pengawet/penyedap rasa (tanpa birokrasi yg rumit).

Teknologi yag di ciptakan oleh gen mie instant , contohnya komunikasi instant via messenger (BBM, WhatsApp, dst) sudah mengalahkan popularitas komunikasi tradisional jadul spt telegram, fax, atau sms ataupun email.

swicth-cabling

credit : emerson.com

Contoh lain, ada di teknologi data center. Membangun data center tradisional yang memakan banyak waktu dan juga biaya secara perlahan mulai tergeser dengan trend baru . Teknologi jadul yang di bangun oleh kakek-kakek kita sudah mulai di tinggalkan karena boros tempat, listrik, dan pasti-nya biaya.

plant

credit : automationworld.com

Memperkenalkan apa yang kita akan sebut sebagai tiga i –   ” Intelligent Integrated Infrastructure “. Sebuah pendekatan baru untuk membangun sebuah data center yang lebih efisien dan cost friendly .

Compact datacenter di ilustrasikan sebagai berikut.

Before  (isi data center penuh dengan rack server/storage/switches) smartcabinet1

After (isi data center di compress, tdk memerlukan banyak “box” / rack ) smartcabinet2

Lebih simple, hemat tempat, dan efficient ?

Mari kita buka isi dari compact & smart  datacenter ini

Solusi compact data center

smartcabinet-full smartcabinet-full-1 smartcabinet-full-2

Perbandingan yang datacenter jadul versus instant

comparison

Feature Tear-off

containrack1

containrack2

containrack3

containrack4

containrack5

containrack7

containrack8

Secured access door

containrack9

Touchscreen Display & Access Control

containrack10

Kondisi aktual bisa bisa dipantau langsung

emerson-lcd

Cooling unit

containrack12

Power unit

containrack13

Remote Control Unit

containrack14

remotealarm

Informasi / kondisi data center bisa di pantau secara remote / mobile

COOLING MANAGEMENT

Aliran udara panas (dibelakang rack) dan udara dingin (depan rack) yang di sirkulasikan (re-use)  untuk efisiensi cooling & power

hot-cold-airflow

Untuk kasus darusat / emergency, jika cooling unit mengalami kegagalan / rusak Maka akan di backup oleh fan unit (kipas cadangan)

EmergencyFan

Aliran udara panas dan dingin masih tetap bisa di sirkulasikan dengan baik. sehingga sistem tetap berjalan normal.

EmergencyFan-Airflow

Solusi compact & smart datacenter ini bisa di setup dalam hitungan jam

packaging

Beberapa jam kemudian

completedrack

tech-specs

Siapa yang bisa mengimplementasikan solusi diatas ?

Mulai dari kantor pemerintahan baik pusat maupun cabang, toko retail, bisnis UKM, u maupun pemain telco pun bisa pakai.

Selain itu manufacturing,warehouse, lembaga pendidikan bisa sekolah maupun kampus juga sangat cocok , untuk pemakaian di lab computer/jaringan juga sesuai.

Tidak kalah keren lah ama datacenter gugel ataupun fesbuk ^_^

Sumber: emerson.com

Advertisements
i3 – Intelligent Integrated Infrastructure

Zerto – BC/DR/DRaaS – No Problemo

Memperkenalkan Zerto

bestvmware-europe-20014

Solusi enteprise class untuk business continuity and disaster recovery (BCDR) untuk IT infrastruktur virtual dan cloud computing. Sebagai pemenang Best of Show at VMworld 2011, a Best of VMworld 2014 award, dan juga Product of the Year Awards 2011, 2012, and 2013 menunjukkan bahwa solusi yg di tawarkan Zerto diakui oleh VMware selaku product principal.

Zerto memiliki pendekatan yang out-of-box dibanding produk sejenis-nya. Solusi  Zerto Disaster Recovery menggantikan traditional array-based BCDR.

Ilustrasi tradisional array based. Replikasi di level array / storage

old-ways-replication

Solusi dari Zerto, replikasi di level hypervisor.

hypervisor-replication

newyork-dallas

Zerto adalah hypervisor centric dan  bekerja berdasarkan write-split , artinya tidak ada snapshot dalam proses replikasi.

Sekali lagi tidak ada snapshot. Artinya teknologi Zerto agak berbeda, sedikit anti mainstream, dimana produk replikasi sejenis  dari  Veeam ataupun vSphere berbasis pada array-based asynchronous, memakai snapshot (pasti-nya)

Jadi singkatnya apa kelebihan Zerto ?

Data-Replication-over-WAN

Zerto melakukan proses replikasi secara terus menerus dengan mengirim stream I/O replikasi ke remote site. Artinya RPO (Recovery Point Objective) bisa di set minimum hingga hitungan detik. Sesuatu yg tidak dimiliki oleh teknlogi snapshot standard vSphere,  RPO saat ini hanya bisa di set minimum-nya mentok 15 menit.

Teknologi snapshot sudah lama dipakai untuk urusan backup data..tetapi teknologi ini masih banyak yang perlu di perbaiki lagi. Misalnya utk server yang berbasis Microsoft (Windows), VSS (Volume Shadow copy Service) masih dan slalu menjadi andalan utk urusan snapshot. Seperti halnya tukang foto, tidak smua foto (snapshot) yg di hasilkan bagus..mungkin ada efek red eye (mata merah) sehingga fotopun nampak cacat. Demikian juga dengan snapshot yg bermasalah tidak bisa digunakan sebagai backup & recovery.

Zerto tidak memakai snapshot

No snap so no VSS issues …terbaik.?

boboiboy

Solusi dari Zerto cukup lengkap, teknologinya bisa di implementasikan sebaigai BC/DR dan juga DR as a Service untuk private, public, maupun hybrd cloud.

cloud

 Zerto – Amazon EC2

Membuat hyrib cloud dan replikasi ke Amazon EC2

Zerto-Virtual-Replication-Architecture-Amazon-AWS1

 Zerto – Cisco

Zerto di approve sebagai arsitekur DRaaS yang di dukung penuh oleh Cisco

draas-cisco1

draas-cisco2

draas-cisco3

Yang ter keren..Zerto ini bisa di integrasikan sebagai solusi BC/DR  untuk dari product VMware Vsphere versi paling basic alias  Essential (tanpa plus ) hingga enterprise. Sebagai catatan vSphere essential dari sono-nya  tidak memiliki fitur replikasi.

Sumber / referensi : Cisco DRaaS, Zerto BC/DR

Zerto – BC/DR/DRaaS – No Problemo

Memilih Teknologi VDI

The World Is Changing

Mungkin teknologi versi  “re-inventing the wheel” sedang booming. atau justru teknolgi masa lampau di jadikan inspirasi teknologi masa depan ? Pada jaman dulu, kita mengenal server mainframe..super computer seukuran lemari pakaian 4 pintu  atau garasi mobil. Kemudian ada dumb terminal, yakni monitor plus keyboard yang terkoneksi network yang biasa dijadikan terminal desktop / workstation.

the-world-is-changing

Jaman berubah, yang gede dan bodoh (google translate “dumb terminal”) ditinggalin..ganti jadi kecil tapi pinter. Teknologi client server yang terdistribusi. Ukuran server menciut, yang paling gede paling seukuran kulkas 1 pintu.

Kini, jaman fesbuk dan twiteran, teknologi IT kembali bertransformasi.

Trend virtualisasi mulai dari virtualisasi server, storage, network device, gadget, PC dan seterusnya.Khusus teknologi virtualisasi desktop infrastructure (VDI), jika di amati mirip jaman mainframe, komputasi terpusat di gado dengan sistem client server jaman sekarang.

Di era VDI ini  akan di kenal Thin Client dan Zero Client, keduanya adalah computer super kecil baik dari ukuran maupun energi / power yang di butuhkan. Keduanya akan banyak ditemui pada saat implementasi VDI.

Thin Client VS Zero Client

Mana jagoannya ?

Thin Clients

Secara tradisional adalah end-point / client yang terpasang embeded OS, bisa Linux atau Windows Embedded/ Windows CE.

Kelebihan Thin Client, adalah dari sisi fleksibilitas, jika jaringan offline, tidak matot (mati total) client-nya..alasanya ya karena punya OS atau pun aplikasi yang nempel (meski versi mini-nya). Kekurangannya, masih ada kemungkinan client kena virus, korup dst. masih  bisa terjadi karena masih ada OS. Masih perlu banyak tenaga Helpdesk (meski tidak sebanyak era desktop PC conventional).

Zero Clients

Berbeda dengan yang Thin client yang masih ada OS yang nempel, di Zero client sama sekali tidak ada OS alias bersih / kosongan. Lalu, bagaimana client tsb bisa menjalankan OS ? Bukan sulap .. ternyata sederhan saja, OS-nya di paketin / dikirim langsung dari server dalam bentuk gambar via jaringan/network.

Pada Zero Client hanya terdapan on-board processor untuk decoding gambar/display. Protocol (atau cara ngonbrolnya) memakai VDI protocol yang sudah menjadi standar  VDI yakni PCoIP, HDX ataupun RemoteFX.

Kelebihan Zero client ini adalah jelas bebas virus (gak ada OS), lalu waktu boot-up yg lebih cepat (nampilin gambar aja..processing yang urus si server), dan paling simpel, sedikit perawatan dan support (gak perlu banyak-banyak tenaga IT Helpdesk)

Kekurangan sudah pasti, jika jaringan mabok, dijamin client-nya ikutan mabok karena tidak ada koneksi.

Sedangkan teknologi VDI di belakang layar (yang jarang / tidak terlihat oleh end-user) bisa menggunakan solusi VMware, Citrix, 2X, IBM Virtual Desktop, Quest vWorkspace, dan Microsoft RemoteFX.

vdi-tech

Dari sisi teknologi VDI, mana yang terbaik ? Semua vendor pasti claim teknologi mereka yang paling bagus, tetapi semuanya akan di kembalikan kepada kebutuhan, design, budget, dan tentunya strategi IT di sisi customer.

Siap gantung obeng ? Pilih VDI terbaik.

Memilih Teknologi VDI

Cloud Computing Apakah Itu?

cloud-computing-1
Cloud Computing adalah sebuah model komputasi / computing, dimana sumber daya seperti processor / computing power, storage, network, dan software menjadi abstrak dan diberikan sebagai layann di jaringan / internet menggunakan pola akses remote.

Model billing dari layanan ini umumnya mirip dengan modem layanan publik. Ketersediaan on-demand sesuai kebutuhkan, mudah untuk di kontrol, dinamik dan skalabilitas yang hampir tanpa limit adalah beberapa atribut penting dari cloud computing.Sebuah setup infrastruktur model cloud computing biasanya di kenali sebagai ‘Cloud’.

Kekurangan dan kelebihan Cloud

Kelebihan : Hampir tak terbatas kapasitas penyimpanan, terpusat / standardata lokasi dan format memungkinkan untuk portabilitas tinggi untuk aplikasi dan data, dan Sedikit awal dan biaya pemeliharaan.

Kekurangan : Kecepatan akses dibatasi oleh kecepatan akses internet dan sedikit kustomisasi aplikasi yang tersedia.

cloud_computing_pros_cons_big

Yang menarik dari Cloud Computing berbeda dengan server konvensional terutama:

  • Secara fisik berupa kumpulan hardware / server yang tersambung dalam sebuah jaringan (LAN / WAN). Tetapi dari sisi, pengguna dapat melihat sebagai sebuah komputer besar.
  • Idealnya tidak ada batasan dengan kapasitas processor, kapasitas harddisk dan kapasitas memory.
  • Idealnya tidak ada batasan dengan berapa jumlah “hosting” server yang berjalan di belakangnya.
  •  Menambahkan sebuah “hosting” hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.
  • Jika ada kekurangan resource (sumber daya), baik itu processor, harddisk maupun memory, kitadapat dengan mudah sekali menambahkan server tambahan dan langsung dapat berintegrasi kejaringan cloud. Butuh waktu sekitar 20 menit-an untuk menyiapkan server kosong / baru untukdapat berintegrasi ke jaringan cloud

cloudcomputing-sas-pas-ias

Berikut adalah beberapa kategori layanan yang tersedia dari sebuah ‘Cloud’ seperti:

  • Infrastructure As A Services (IAAS)
  • Platform As A Service (PAAS)
  • Software As A Service (SAAS)

‘Cloud’ ini biasanya tersedia sebagai layanan kepada siapa saja di Internet. Akan tetapi, varian yang di sebut ‘Private Cloud’ semakin populer untuk infrastruktur pribadi / private yang mempunyai atribut seperti ‘Cloud’ di atas.

Cloud computing berbeda dengan Grid computing atau Paralel Computing, dimana Grid computing dan Paralel computing adalah lebih merupakan sebuah bagian dari prasarana fisik bagi penyediaan konsep Cloud computing.

Perangkat Lunak Cloud Computing

Belakangan ini dikembangkan sebuah bentuk nyata (atau setidaknya sebuah common platform/bentuk umum) dari konsep Cloud Computing agar dapat di-implementasikan secara umum dan lebih luas,seperti contoh berikut :

  •  Ubuntu Enterprise Cloud (UEC)
  •  Proxmox
  •  OpenStack
  •  OpenNebula
  •  Eucalyptus

Engine utama dalam cloud computing sebetulnya adalah aplikasi virtualisasi di sisi server, seperti,

  •  KVM
  •  QEMU
  •  Xen

Ada dua (2) teknologi yang bisa di gunakan  yakni :

Walaupun sebetulnya kedua-nya sama-sama menggunakan Eucalyptus dan KVM atau Xen di dalamnya.Secara umum UEC lebih mengerikan untuk digunakan karena semua interface-nya menggunakan Command Line Interface (CLI) alias text.Jadi untuk pemula mungkin akan sangat tidak nyaman.
Walaupun bagi yang biasa menggunakan text sebetulnya enak sekali menggunakan UEC ini. UEC membutuhkan minimal dua (2) Server untuk bisa operasional. Salah satu Server-nya harus menggunakan processor kelas Xeon.

Untungnya … [ Indonesia banget 🙂 ….]  ada Proxmox

proxmox1

Proxmox buatan Jerman menggunakan Grafik User Interface (GUI) melalui Web sehingga sangat mudah untuk di operasikan. Cantiknya Proxmox minimal menggunakan SATU server kelas Xeon.Bagi anda yang tidak mau pusing kepala sangat di sarankan untuk menggunakan Proxmox.

Proxmox VE adalah Distro linux berbasis Debian(x86_64) yang dibuat khusus sebagai hypervisor atau disebut juga Virtual Machine Manager (VMM) tipe 1 (bare metal).

Hypervisor

  • Tipe 1 (barel metal) Hypervisor yang berjalan langsung di atas perangkat keras yang kita miliki, contohnya VMware ESXi.  Selain Proxmox yang menggunakan KVM, beberapa yang ternama yaitu Oracle VM untuk SPARC, XenServer Citrix dan Microsoft Hyper-V.
  • Tipe 2 (host) Hypervisor berjalan di dalam Sistem Operasi. Dengan lapisan hypervisor sebagai tingkat perangkat lunak yang berbeda. Contoh dari tipe ini adalah VMware Workstation dan VirtualBox.

Dari keterangan di atas diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang hypervisor sebagai software infrastruktur virtual yang dapat dijadikan pendukung layanan Cloud Computing.

Proxmox secara default menyertakan OpenVZ dan KVM (Kernel-based Virtual Machine) dan disediakan dalam mode CLI (Command Line Interface)/modus teks. Proses administrasinya dilakukan menggunakan akses web dengan plugin Java.

Sumber : OWP , dll.

Cloud Computing Apakah Itu?

Nano PC – Fanless PC Hemat Listrik

Foxconn, pabrikan asal Cina yang juga dikenal sebagai perakit iPad, akan segera memperkenalkan produk fanless PC (PC tanpa kipas/nirkipas) perdananya. Rencana ini diungkap oleh situs Fanlesstech.com, kemarin (2/5).

Foxconn melabeli PC nirkipas ini sebagai Nano PC. Untuk debutnya, Nano PC bakal tersedia dalam dua model, masing-masing diperkuat prosesor Intel dan AMD.


Model pertama, Nano PC AT-5300, merupakan PC nirkipas berbasis Intel Dual Core Atom D2700 dengan clock 2,13 GHz. Sementara itu, model AT-5600 dibekali AMD Dual Core E450 berkecepatan 1,65 GHz.

Keduanya dilengkapi komponen-komponen pendukung seperti memori DDR3 up to 4 GB, slot SATA II hard disk 2,5 inci atau SSD, serta konektivitas komplet, mulai dari porta USB 2.0, USB 3.0, pembaca kartu memori, hingga porta LAN, VGA, dan HDMI.

Karena hadir tanpa kipas, Nano PC memiliki kelebihan dari segi form factor yang mungil sehingga layak dipergunakan sebagai alternatif pengganti CPU desktop konvensional di rumah dan perkantoran. Dimensinya hanya 19 x 13,5 x 3,8 cm dengan bobot 600 gram. Nano PC juga unggul dalam penghematan konsumsi listrik, hanya 24 W saat aktif dan 15 W dalam kondisi idle.

Belum diketahui secara resmi kapan Nano PC akan berada di pasaran. Tapi, diperkirakan banderolnya di bawah US$200.

PC nirkipas sendiri memanfaatkan teknologi pendinginan pasif, seperti yang digunakan di notebook/netbook. Teknologi ini mementingkan desain PC, meliputi prosesor, motherboard, dan komponen-komponen lainnya, yang hemat konsumsi daya (kurang dari 50 Watt). Walhasil, panas yang dihasilkan tidak sebesar PC konvensional.

Specs:

✓ Atom D2700 / AMD E450
✓ 1 x SO-DIMM socket (DDR3 memory up to 4GB)
✓ 2 x USB 3.0 ports
✓ 4 x USB 2.0 ports
✓ 1 x 2.5″ bay
✓ 1 x SD/SDHC/MS/MS Pro/MMC card reader
✓ 1 x Gigabit LAN port
✓ 1 x HDMI
✓ 1 x VGA
✓ 802.11n Wi-Fi
✓ 19 cm x 13.5 cm x 3.8 cm
✓ VESA mountable
✓ 600 g

Nano PC – Fanless PC Hemat Listrik

PearOS : Ubuntu Rasa Mac OS

Jika Anda menyukai Ubuntu tetapi ingin merasakan sensasi Mac OS, silakan mencoba Pear OS Linux versi 3.0.

Pear OS sengaja dibuat dengan nuansa Mac OS oleh pengembangnya. Coba lihat nama OS versi 3.0 ini yaitu Panther, mirip dengan yang digunakan Mac OS. Begitu pula dengan slogan yang diusungnya, “Think Totally Different”, plesetan dari “Think Different” milik Apple. Logo buah pir tergigit juga terinspirasi dari logo Apple.

Pear OS Linux 3.0 merupakan pengembangan dari Ubuntu 11.10 yang dibuat oleh David Tavares asal Perancis. Meski turunan Ubuntu 11.10, distro ini tidak menggunakan desktop manager Unity dan memilih Gnome 3.2 yang lebih sederhana, mudah, dan memiliki tampilan menarik.

Karena berbasis Ubuntu 11.10, Pear menggunakan proses instalasi yang sama dengan Ubuntu “asli” yakni Ubiquity Installer. Asyiknya, dari sini Anda tidak akan menemui kesulitan saat melakukan instalasi, baik instalasi mandiri maupun dalam modus dual boot dengan Windows atau OS (baca: distro) lain. Jika Anda awam mengenai partisi hard disk, instalasi ini menyediakan pilihan secara otomatis dan Anda tinggal mengikuti wizard yang ada.

Pear OS menggunakan tampilan seperti Mac OS. Yang paling jelas terlihat yaitu tampilan application launcher bergaya dock. Jika menjelajah lebih dalam, Anda juga akan menemui tampilan yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar bernuansa Mac OS. Beberapa pintasan pada dock telah terpasang secara default seperti Finder yang merupakan explorer dan Launchpad yang merupakan modifikasi slingshot launcher milik Ubuntu.

Pear OS juga menyediakan aplikasi pencadangan (backup) dengan nama Back In Time. Fungsinya mirip dengan Time Machine milik Apple atau System Restore pada Windows. Sebagai peramban bawaan, digunakanlah Opera versi 11.60. Untuk menjalankan berkas audio, tersedia aplikasi Clementine.

Awalnya, Pear dibuat untuk sistem berbasis 64-bit. Namun, versi anyarnya menyediakan pula versi 32-bit. Versi 64-bit memiliki ukuran 1 GB dan versi 32-bit hanya sekitar 900 MB. Besarnya kapasitas tersebut karena Pear telah menyertakan beberapa codec repository sehingga Anda tidak perlu lagi mengunduhnya secara manual.

Sayangnya, berkas instalasi yang berukuran cukup besar itu masih belum menyertakan aplikasi paket pengolahan dokumen, seperti OpenOffice atau Libre Office. Untuk aktivitas mengetik, hanya tersedia aplikasi Ed, Nano, sedangkan untuk membaca berkas PDF tersedia aplikasi Pear-PDF-Viewer.

Download PearOS dari Sourceforge

PearOS : Ubuntu Rasa Mac OS

Neverfail – User Testimoni

About Neverfail

Neverfail specializes in eliminating user downtime by building world-class continuous availability software solutions for High Availability and Disaster Recovery.  Our products ensure business continuity and IT services continuity by reducing both planned and unplanned downtime using our unique intelligence and automation capabilities.

Continuous Availability from Neverfail – the intelligent way to avoid application downtime. Neverfail provides high availability software and disaster recovery software for any Windows-based application and is designed to let your business run 24×7 without major investments in costly resources

 

Testimoni

Windows IT Pro

Businesses demand high availability and The Never-fail Group’s Neverfail for SQL Server provides it, with server-level and site-level protection for Microsoft SQL Server, as well as automatic failover capability. Neverfail runs on Windows Server 2003 Standard and Enterprise Editions, and Windows 2000 Server SP4, and it supports SQL Server 2000 SP3a and later.

I tested Neverfail between two servers running on the same subnet with a 100MB LAN connection. (Neverfail also includes a Low Bandwidth Module for use in WAN scenarios.) My primary and secondary servers were running Windows 2003 and SQL Server 2000 SP4.

Setup involved many steps, including some manual configuration of the network, but it went smoothly. Neverfail installed the software on the primary and secondary servers and initialized the replication environment, including the Neverfail Heartbeat Management Client. You can also install it on an administrative workstation. This client lets you set up parameters for controlling automatic failover, and it can initiate manual failover and failback. Web Figure 1 shows the Neverfail status and control screen.

Neverfail uses queued asynchronous replication to replicate data from the primary to the secondary server. I tested switchover capabilities and found that the manual failover took approximately 20 seconds to complete, plus another 10 seconds for the SQL Server service to start up. After I pulled the plug on the primary server, it took Neverfail about 15 seconds to determine that the server was unavailable and another 30 seconds to complete the failover before SQL Server was active on the secondary server.

In spite of the lengthy setup time, Neverfail worked well, and the failover process was reliable and quick.

Neverfail for SQL Server

PROS: Easy management; quick failover functionality; provides excellent control over failover parameters
CONS: Lengthy setup process
RATING: 4 out of 5
RECOMMENDATION: Neverfail is an excellent choice for organizations demanding maximum availability for SQL Server. 

CONTACT US

Neverfail – User Testimoni