Kerja Zaman Old VS Zaman Now

Apa perbedaan kerja Zaman old dan Zaman now ? Di sadur dari artikel bule, landscape dunia kerja sedang berubah.

Work Life Balance vs Work Life Integration

Balance – noun: a condition in which different elements are equal or in the correct proportions.

Integration – noun: an act or instance of combining into an integral whole.

Work Life-Balance

Work-life balance revolves around mutual exclusivity between our career and our home-life. As in, when you leave the office at 5 p.m., you actually leave every aspect of your job at the office. You’re not expected to take home work-related projects. You don’t answer emails at the dinner table, you avoid your digital devices like the plague, and you respect the separation between your work responsibilities and your responsibilities at home. You check-in to the office at 8 a.m. and you leave at 5 p.m., every day, without fail. No ifs, ands, or buts.

Work Life-Integration

Work-life integration, however, suggests we incorporate our work and life into one fulfilling purpose. It means having more flexibility with your schedule. If you need to take your kids to school every morning before checking-in to the office – that’s cool. If you need to leave early every Wednesday to attend that economics class you signed up for – good for you. You can make up the missed work hours later that night or the next day, right? Right.

With the work-life integration philosophy, companies trust their employees to get their work done, regardless of how many hours they log in at the office or where they’re getting their work done. 75% of millennials want the ability to work flexibly and still be on track for promotion. If a company trusts their employees and employees understand and are committed to company expectations, a flexible schedule, going back to school, or any other personal growth endeavor or family-related activity should never get in the way of promotion or advancement.

Sedikit menengok sejarah hari buruh yang di mulai 1 Mei 1886

Aturan zaman old

Peraturan yang sudah berumur ratusan tahun tersebut masih terus di pakai hingga sekarang. Hal tersebut dirasa sudah tidak cukup relevan lagi bagi generasi millennials, generasi zaman now. Definisi kerja sudah berubah di revolusi Industri 4.0 ini.

Ya, sebagian pekerjaan mungkin tetap harus berpedoman aturan baku, seperti aparat sipil,guru, dokter/perawat,polisi, dan aparat militer, atau buruh manufaktur yang harus bekerja di pabrik. Dimana kehadiran fisik di lokasi kerja adalah mandatory. Kalo mereka gak di tempat kerja..bisa berabe urusan.

Tapi, utk sebagian lagi, terutama untuk pekerjaan yang baru muncul zaman now, definisi kerja mungkin sedikit bergeser.

Kerja sekarang bukan melulu cuman yang di belakang meja kantor, di balik kubikal, atau di gedung bertingkat 100.

Kerja sekarang bukan melulu yang start 8 pagi dan stop 5 sore.

Kerja sekarang juga bukan melulu yang pakai jas rapi jali berdasi.

Definisi kerja mulai bergeser, dengan adanya berbagai macam teknologi yang ada di zaman now maka pekerjaan bisa di lakukan dengan lebih fleksibel, tidak kaku, tidak ribet.

Jargon Work Life Integration mungkin akan lebih sering terdengar di masa mendatang.

Pekerjaan adalah sesuatu kewajiban yang harus ditunaikan sebagai konsekuensi kita yang di bayar baik oleh perusahaan (jika kita buruh/karyawan) atau pun di bayar customer kita (jika kita sebagai entrepreneur)

Di masa mendatang, mungkin orang akan terbiasa bekerja sambil rekreasi ke pantai , sambil bermain dengan anak, ataupun sambil nyruput secangkir kopi di rumah. Lokasi kerja bukan masalah karena semua bisa terkoneksi.

Demikian pula dengan waktu kerja, mau shubuh ataupun dini hari (sambil nunggu pertandingan Liga Champion) tidak akan jadi masalah. Tidak perlu repot itungan lemburan. Itu semua karena jam kerja yang flexible. Kerja, main, dan istirahat bisa di integrasikan.

Produktivitas bukan lagi di ukur dari lamany bekerja di kantor. Jadi di ukur dari apa?

Di zaman now, produktivitas di ukur dari kecepatan respon dan hasil akhir. Proses ga usah ribet di pikirin, mau sambil nungging atau jogging, yang penting pekerjaan bisa selesai tepat waktu, kualitas dan kuantitas kerja meningkat, customer happy, boss happy, keluarga happy, semua happy.

Hubungan spiritual dengan Owner kita juga makin berkualitas, ibadah on time, sholat bisa selalu jamaah di mesjid (hanya lelaki sholehah yang sholat di rumah).

So, ..nikmat mana lagi yang kau dustakan..?

Dari berbagai sumber.

Advertisements
Kerja Zaman Old VS Zaman Now

People Development Zaman Now

Untuk mampu tetap bertahan di masa depan, para incumbent menghadapi dua tantangan yang tidak ringan. Pertama, perubahan eksternal yang sangat revolutif, bahkan eksponensial. Akronim VUCA – volatility, uncertainty, complexity, ambiguity – sudah menjadi sangat lazim digunakan untuk menggambarkan lanskap bisnis saat ini. Tentunya masa depan kian tak mudah untuk digambarkan.

Revolusi digital yang sedemikian cepat dan masif menjadi pemicu, sekaligus pemacunya. Di dunia internet, gelombang pertama, yaitu connecitivity , sudah terlampaui. Ketika kita masih gagap menikmati gelombang kedua, media sosial dan bisnis digital, internet sudah memasuki gelombang ketiga, internet of things , atau internet of everything . Bahkan gelombang keempat, internet of value atau internet of trust, sudah mengintip, dengan diekplorasinya teknologi block chain.

Pertarungan bisnis model menggantikan ramuan strategi marketing konvensional. Keajaiban digital menjadi enabler bagi para new entrants untuk memasuki pasar yang semula dikuasai para incumbent
besar yang sudah mapan dan jumawa.

Satu per satu mereka bergelimpangan, semata karena tiba-tiba kehilangan relevansinya. Tidak sampai di situ, bahkan yang hilang bukan sekadar perusahaannya, namun juga industrinya sekaligus. Batas-batas antara satu industri dengan yang lain kian kabur dan menjadi tidak relevan. Muncul sejumlah industri baru dengan definisi yang sama sekali berbeda. Konsekuensinya, sejumlah profesi lenyap, beriringan dengan munculnya sejumlah profesi baru.

Di sisi lain, incumbent juga berhadapan dengan tantangan internal yang tak kalah menggetarkan. Meningkatnya ukuran perusahaan tak selalu menjadi berkah. Ia juga menyimpan potensi krisis akibat melemahnya founder’s mentality . Akibatnya, daya dukung internal menjadi rapuh, pertumbuhan terus melambat, dan akhirnya perusahaan terjun bebas ke titik nadirnya tanpa bisa ditahan lagi oleh manajemen.

Untuk merespons “tsunami” tersebut, bagaimana SDM harus dipersiapkan? Pertanyaan tersebut menjadi semakin krusial untuk dijawab karena proporsi SDM organisasi semakin didominasi oleh para millenials yang memiliki cara berpikir yang sangat berbeda dengan generasi pendahulunya.

Satu di antara pembeda itu, mereka tidak lagi bicara work-life balance , melainkan work-life integration .
Betul bahwa sejumlah kompetensi baru, utamanya di seputar teknologi digital, menjadi menu wajib yang harus ditelan oleh SDM zaman now untuk tetap kompetitif. Namun, potensi goncangan yang sedemikian dahsyat menuntut ketangguhan pribadi kelas satu pula untuk menghadapinya.

Di satu sisi big data analytics, machine learning, aritificial intelligence, dan serenceng digital technology competencies lainnya memang dibutuhkan untuk menjadi pemenang. Namun sejumlah soft-competencies yang mampu memastikan tetap terjaganya quality of life sebagai manusia yang berbahagia menjadi semakin relevan pula untuk diperkokoh.

Di tingkat individu, menemukan visi pribadi, keyakinan diri dan tata nilai personal, menjadi hal yang sangat krusial. Ketiga komponen modal spiritual tersebut akan membuat seseorang mampu memberikan makna yang kuat dan mendalam terhadap hidup dan kehidupannya, sehingga ia menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi tekanan eksternal. Setidaknya, ia mampu memotivasi dirinya sendiri di tengah lingkungan sosial dan profesional yang mungkin sekali tak sepenuhnya bersahabat.

Di tingkat organisasi, membangun budaya organisasi yang kuat menjadi keniscayaan. Di satu sisi, budaya tersebut harus menjamin terciptanya sebuah atmosfir yang sangat terbuka terhadap perubahan dan inovasi yang eksponensial, serta mendorong organisasi untuk bergerak secara agile dan taktis. Namun di sisi lain, budaya tersebut harus memastikan founder’s mentality tetap terpelihara dan terus-menerus diperbaharui, sebagai sumber kekuatan kolektif untuk memenangkan tantangan revolusi digital hari ini dan esok.

IMG_20160903_180124

Sumber

People Development Zaman Now

Tahun Ajaran Baru

Apa PERBEDAAN Pendidikan Akademik, Profesi dan Vokasi?

Berbicara mengenai pendidikan, ternyata banyak orang tidak tahu kalau di Indonesia ada tiga jenis pendidikan tingggi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, program pendidikan di pendidikan tinggi mencakup pendidikan akademik (sarjana, magister, dan doktor), pendidikan profesi/spesialis dan pendidikan vokasi (diploma).

Istilah vokasi digunakan untuk program pendidikan menggantikan istilah profesional atau profesi. Vokasi mungkin diturunkan dari bahasa Inggris,

  • a person’s employment or main occupation, especially regarded as particularly worthy and requiring great dedication.
  • a trade or profession.

Vocation sama artinya dengan profession….belajar untuk menjadi jadi Professional bukan Professor  !

Pendidikan vokasi merupakan penyelenggaraan jalur pendidikan formal yang diselenggarakan pada level pendidikan  tinggi, seperti: politeknik, program diploma, atau sejenisnya.

Sedangkan pendidikan kejuruan merupakan penyelenggaraan jalur pendidikan formal yang dilaksanakan pada jenjang pendidikan tingkat menengah, yaitu: pendidikan menengah kejuruan yang berbentuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Pendidikan kejuruan dan pendidikan vokasi merupakan penyelenggaraan program pendidikan yang terkait erat dengan ketenagakerjaan

 

Piramida Ketenagakerjaan dan Jenjang Pendidikan Sekolah 

 

Vokasi bertujuan menciptakan tenaga kerja yang terampil dalam keahlian tertentu karena industri suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas tenaga terampil yang terlibat langsung dalam proses produksi.

Entrepreneurship atau Wirausaha adalah efek samping jika memilih jalur vokasi. Pola pikir lulusan berbasis vokasi sudah di setting di kampus untuk menjadi tenaga kerja ahli yang professional dan sekaligus enterpreneur.

Kenapa bisa demikian ?

Vokasi juga bertujuan memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik untuk memasuki lapangan kerja dan sekaligus menghasilkan tenaga kerja terampil yang dibutuhkan oleh masyarakat atau menciptakan peluang kerja dengan kemampuan / skill sets yang di miliki.

Pilihan Ditentukan

Berbeda dengan pendidikan akademik,kenaikan level misal dari S1 ke S2 ataupun S3. Ataupun pendidikan profesi , misal dokter, notaris, akutant, yang harus kembali ke kampus pendidikan tinggi untuk bisa mendapatkan kenaikan level.

Pendidikan vokasi adalah masalah skill sets / ketrampilan kerja, untuk menaikan level skill sets tidak selalu dengan pilihan balik kampus. Justru sebaliknya, kenaikan level dari level biasa ke specialist bisa dapat kan dengan jalur yang sangat berbeda. Bisa berupa mengikuti pelatihan hingga sertikasi profesi yang di selenggarakan lembaga non-formal.

Bukan ijazah yang di dapat, tetapi pengakuan professi dan kompetensi.Tingkat tertinggi dari jenjang karir vokasi adalah SPECIALIST . Keahlian khusus yang tidak mudah untuk mendapatkan-nya.

Baik dengan belajar otodidak atau pengembangan karir lewat pelatihan yang reguler dengan mentoring adalah salah satu jalan menjadi specialist.

Inilah yang membedakan jalur vokasi dengan akademisi ataupun profesi.

Professionalisme dan Dedikasi tuntas adalah kata kunci untuk meluncur di jalur vokasi.

ILMU BISA DI BELI, PENGALAMAN HANYA DIDAPATKAN DENGAN MENJALANI

Be different friends!

Tahun Ajaran Baru

Batman v Superman

Ralat judul : -)
Brainstorming vs Sprint 
 sprint3
Buat para start-ups (#usaha rintisan)  dan designer / arsitek system, bukan hal yang mudah menyatukan banyak “isi kepala”dalam sebuah pertemuan diskusi. Brainstorming bisa jadi hal rutin yang perlu di lakukan.
By the way, brainstorming apaan yah ? #badai otak 🙂
Brainstorming atau bahasa kampungnya mungkin bisa disebut rapat dengar pendapat atau meeting bukan sesuatu yang baru, dari rapat di kantor, di RT atau mungkin rapat di rumah kita sendiri. Intinya sarana untuk mengumpulkan banyak orang / group untuk melakukan diskusi bersama, mencari solusi atau ide-ide.
Caranya pun sekarang macam-macam, ada yang konventional dengan verbal alias tatap muka langsung. Ada juga yang lewat online (#bukan numpang trending topic) yakni diskusi group lewat email atau group chat.
Dalam kegiatan tersebut biasanya ada orang yang aktif memberikan pendapat  / ide dan ada juga yang pasif / diem aja (meskipun ada ide ..disimpan dalam hati). Wajar…manusia ada banyak type, salah dua-nya extrovert dan introvert. Extrovert cenderung mendominasi.Nah ini susahnya bagi yang introvert, dalam rapat besar / dihadiri banyak orang maka type ini cenderung diam / pasif, jadi pendengar saja.
Padahal ide cemerlang kadang ada di kepala orang-orang jenis ini. Jadi bagaimana sebaiknya membuat acara brainstorming jadi lebih efektif ? Terlalu banyak orang terlibat rapat memang kadang memusingkan, terlalu banyak ide, terlalu banyak saran, tapi mentah di pelaksanaan.
Buat apa rapat bolak-balik tetapi tidak menghasilkan apapun kecuali hanya rutinitas group kerja dan… kantuk ?
Mungkin ini lah yang melatarbelakangi kenapa harus ada terobosan. Memperkenalkan “Design Sprint”, cara baru  mencari ide dan membuat terobosan implementasi ala Usain Bolt,  juara dunia lari sprint (#bukan maraton)
What is a design sprint?
Design sprints are a framework for teams of any size to solve and test design problems in 2-5 days. The idea of design thinking was developed at IDEO and the d.school at Stanford.
These frameworks were adapted to the idea of “design sprints” thanks to the Google UX teams,Google Ventures and Google [x] and teams across the industry
Definis sprint versi bahasa bule sederhana saja,  buat design dan solusi dengan cepat, ya cukup seminggu dari mimpi sampai jadi realiti. Disinilah kendali ide-ide baik dari yang introvert maupun extrovert di arahkan oleh Sprint Master
Nah apalagi ini, Sprint master ? Usain Bolt kah ?
What is a Sprint Master?
A Sprint Master is the lead of the team. Leaders who have deep knowledge ofthe design process and are not afraid to challenge their team to collaborate and win together quickly.
Sprint master ini lah nanti yang akan membentuk Sprint Team, bagaimana caranya ?
The sprint team should include designers, engineers, product managers and experts.
The ideal team size is 5-8 people. Artinya.. cukup bikin team kecil ..mungkin maksimal cukup 4-5 orang saja, jangan terlalu banyak orang. Ingat..brainstorming kebanyakan jalan di tempat  alias gagal karena keberatan kebanyakan ide / wacana, tapi miskin detail bagaimana cara mengimplementasikan ide-ide tsb.
  sprint2
Prepare the supplies
Sprints require a set of simple but useful supplies: sharpies, paper,
tape, sticky notes, voting dots, a timer, and a chime bell or kitchen
timer. Snacks and coffee are useful, but not required 🙂
The 6 sprint stages
sprint1

Di jelaskan detailnya oleh sang bule di link ini

Sebagai penutup, metode sprint cocok di terapkan di small medium businnes hingga ke enterprise.Bisa jadi sebagaian sudah menerapkan sebagain metode ini tapi levelnya baru sebatas jogging..belum sprint.
Hasil cepat dalam 3-5 hari ini bukan karbitan, tapi hasil dari metode pengambilan keputusan yang jauh lebih cepat dan efektif dibandingkan metode brainstroming tradisional.
Kelebihan lainnya, baik introvert ataupun ekstrovert di berikan “”panggung” yang sesuai hingga mereka bisa memberikan sesuatu yang maksimal.
Batman v Superman

Max Linux : Fury Road

mad max

Berita dari ajang Oscar ke-88, film paling fenomenal di akhir 2015 “Mad Max -Fury Road” , ditahun kabisat ini, 29 Februari 2016 akhirnya berhasil mendapatkan 10 nominasi Oscar, dan sukses membawa pulang 6 piala Oscar yakni :

Tata Kostum Terbaik
Tata Latar Terbaik
Tata Rias Terbaik
Penyuntingan Film Terbaik
Penyuntingan Suara Terbaik
Tata Suara Terbaik

Agak sedikit epic jika melihat proses pembuatan film ini, mulai dari hunting lokasi shooting
yang fantatis, aksi stuntman yang bener-bener gila
, minim efek CGI, dan yang paling gila, butuh hampir 17 tahun utk kelarin ini film.

Moral story : penantian panjang tidak akan sia-sia karena kerja keras, determinasi akan dibayar lunas pada akhirnya.

Apakabar Linux  ?

Beberapa tahun yang lalu , mungkin sekitar 10 tahun yang lalu. Linux sempat di gadang-gadang sebagai alternatif untuk meruntuhkan dominasi Microsoft dengan Windows-nya. Ya..Linux sukses ! Tetapi di level enterprise dan smartphone.

Dominasi Microsoft kini agak memudar, seiring runtuhnya era desktop PC. Turunan linux dengan nama keren Android sukses menjungkal kan Microsoft, Blackberry, dan Apple.

Blackberry berusaha bangkit dengan merangkul Android, Microsoft sbg pemilik Nokia juga pernah mencoba (Nokia X–sayang ga dilanjutin) keburu di likuidasi. Mungkin hanya Apple yang saat ini masih gagah dengan IOS dan mac OS-nya.

Apakah Linux masih laku ?

Sure..di level enterprise siapa yang meragukan kehandalan Linux ?

Server, storage, maupun network apliance boleh dikatakan sebagian besar di bangun diatas kernel linux.

Se-level IBM saja masih dengan setia mendukung linux sebagai platform enterprise (PowerLinux), demikian juga dengan raksasa-raksasa IT dari Silicon Valley. Facebook, Google, Amazon smua mengandalkan Linux sebagai tulang punggung / core system-nya.

Apakah Linux masih laku ?

Opensource sebagai nafas Linux pastinya akan terus hidup dan maju. Tetapi harus di akui, semangat Linuxer sekarang sudah tidak sama lagi dengan kondisi 5-10 tahun lalu, yang sangat terasa gelora-nya.

images

Apakah roda Linux akan kembali berputar ? Sepertinya kita butuh reboot seperti Mad Max meski harus menunggu 17 tahun lagi.. Mad Linux : Fury Road

Link

The Magic of Alibaba

Data vs Informasi

Insight dari seorang pendiri Alibaba, Jack Ma, bahwa era IT (Information Technology) akan segera berakhir? Kini teknologi menuju era DT (Data Technology). Semua di mulai dari nol lagi ...

Data adalah asal muasal informasi. Data adalah fakta awal dimana jika rincian data diproses lebih lanjut akan menghasilkan informasi. Jadi bagaimana era teknologi informasi akan berubah menjadi era teknologi data ?

How did Alibaba Jack Ma do it?

#Inspirasi Anak Muda #GenerasiMilenial #Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri China.

The Magic of Alibaba